Kamis, 05 September 2013

Pergilah...

“Aku tidak bahagia ! Apa kamu mengerti ? Aku tidak pernah merasa bahagia bersamamu !!!”

Emosiku tiba-tiba saja menurun saat mendengarmu berkata bahwa hampir lima tahun perjalanan rumah tangga kita tanpa ada rasa bahagiamu sama sekali. Kedua bola mataku berkaca-kaca, seperti rasanya mulai memanas dan ingin mengeluarkan air mata tapi ahh.. jangan dulu aku masih terlalu kuat untuk terlihat baik-baik saja di hadapanmu.

Aku menatapmu lebih dalam lagi, berusaha sekuat mungkin mencari jawaban soal apa yang kamu katakan tadi hanyalah emosi sesaat atau memang itu ungkapan hatimu yang sesungguhnya di lima tahun rumah tangga kita ini. Aku menatapmu, lagi. Dan kamu hanya memalingkan wajahmu, berjalan mendekati arah lemari pakaian kita, mengeluarkan koper besarmu dan hampir semua baju-bajumu terkunci rapat di tas hitam itu. Aku berupaya menenangkanmu, meminta maaf padamu, membujukmu dengan beribu kata hanya demi alasan untuk jangan meninggalkan rumah, aku juga putra kita. Aku juga sempat berlutut dihadapanmu, membuang jauh wibawaku sebagai seorang suami hanya karena ingin mempertahankanmu tapi rasanya bahagiamu bukan disini, tapi ditempat lain.

Air mataku tak kunjung tertahankan juga, aku menangis dihadapanmu sejadi-jadinya. Tak lelah-lelahnya membujukmu untuk jangan pergi dan menceritakan apa yang menjadi alasanmu merasa tak bahagia hidup bersamaku. Kamu terus memarahiku, membentakku dan mengatakan bahwa kesibukanku dari awal pernikahan yang membuatmu jenuh dengan pernikahan kita. Tapi sayang.. bukankah dari pagi hingga malam aku bersusah payah diluar rumah hanya karena untuk menyanggupi kebutuhanmu ? bukankah selama ini aku setuju-setuju saja jika biaya belanjamu perbulan melebihi pendapatanku sebulan hingga aku saat weekand harus bekerja sampingan hanya karena ingin menyenangkanmu ? bukankah selama ini aku tak membatasi ruang lingkup pergaulan bersama teman-teman akrabmu ? bukankah selama ini pula aku hanya kan berdiam diri saja, mencoba mengerti saat tiap pulang kantor makanan yang kamu sajikan untukku hanya nasi dingin, telur dan mie instan ? lalu kurang sabar apa lagi aku mengertimu, mencintaimu ?

Dan kamu meneruskan kata-katamu lagi, bahwa sejak awal perjodohan kita kamu sudah merasa tak bahagia saat harus menikah bersamaku. Dan diluar sana ada sosok yang lebih bisa membahagiakanmu (katamu). 

Detak jantungku berdetak tak beraturan saat mendengar kalimat terakhirmu itu, rasanya ingin menamparmu saja tapi sudahlah cintaku ini padamu sudah diluar batas kewarasan. Jadi apapun sakit yang kamu ciptakan untukku saat ini, biarlah menjadi kado terburukku sekarang karena sudah salah mendidikmu menjadi istri dan seorang Ibu yang soleha.

Pergilah….
Kali ini aku tak akan menahan langkahmu lagi.

Pergilah….
Jika bisa jangan pernah memalingkan wajah ke arahku hanya karena rasa kasihan atau karena Priamu itu nanti tak bisa mencintaimu seperti aku mencintaimu di lima tahun terakhir ini.

Pergilah….
Karena cinta bagiku saat bisa melihatmu bahagia sebahagia mungkin meski bukan bersamaku.


Jadi sayang… pergilah….

9 komentar:

  1. aaaaaak sedih, kasian suaminya, masa istrinya tega gitu ih, huft banget -,-

    BalasHapus
  2. tetap semangat aja ya.
    have a nice weekend :)

    BalasHapus
  3. tapi aku tetap bahagia membacanya hehehe. salam kenal kembali

    BalasHapus
  4. kunjungan perdana, salam perkenalan, silahkan berkunjung balik ketempat saya, barangkali berminat saya punya banyak vcd pembelajaran untuk anak2, siapa tau anda mempunyai adik,keponakan atau mungkin anak yang masih kecil, vcd ini sangat membantu sekali dalam mengasah kecerdasan dan kemampuan otak anak, serta bagus untuk membangun karakter dan moral anak sejak usia dini, semoga bermanfaat dan mohon maaf bila tdk berkenan, trm kasih ^_^

    BalasHapus
  5. berkunjung, salam blogger

    BalasHapus

selesai membaca, ayo tinggalkan kritik dan saran teman-teman :)