Selasa, 19 Maret 2013

Aku pergi saja sayang...


Dulu aku selalu melakukannya, memelukmu seerat-eratnya ketika amarahmu meledak dan memintaku  agar  sesegera mungkin mengakhiri saja hubungan kita. Ya, aku selalu mempertahankanmu dengan tidak peduli masalah yang kita hadapi itu karena keegoisanmu atau karena kelemahanku yang tidak pernah sadar dengan kebohongan dan perlakuanmu. Kita tak jadi berpisah. Tetap bersama Cuma mungkin bedanya saja sekarang aku yang ketakutan kehilanganmu dan kamu yang mulai berkurang rasa terhadapku. Hmm.. biarkan saja asalkan kamu tetap disisiku (pada waktu itu) perubahan bagiku tak mengapa, nanti juga aku sendiri yang kan berjuang keras untuk membuatmu baik seperti semula.

Dulu aku selalu melakukannya, mengabaikan segala urusan pekerjaan kantorku hanya karena memenuhi keinginanmu untuk menemanimu kesana-kesini, seperti tak mengenal lelah. Ya, itulah aku pada waktu itu yang mengira-ngira bahwa untuk membahagiakanmu aku harus selalu menuruti kemauanmu tanpa berpikir rugi atau untungnya aku. Tapi sudahlah.. bukankah pada waktu itu aku berniat untuk selalu membahagiakanmu ? jadi pada waktu itu, berbahagialah kamu sayang...

Dulu aku selalu melakukannya, berpura-pura memasang ekspresi baik-baik saja dihadapanmu saat melihatmu berjalan bergandengan tangan dengan beberapa teman-teman priamu yang katamu itu teman baikmu. Ya, aku mempercayaimu pada saat itu. sesekali menahan dadaku yang nyerinya mulai terasa ngilu. Tak apa, aku juga tak mau membatasi pergaulanmu. Asalkan itu baik dan kamu bahagia itu tak apa-apa buatku sekarang. Tapi sayang.. ah.. sudahlah tak apa. Aku baik-baik saja pada wakt itu, sungguh!

Dulu juga aku selalu melakukannya untukmu, duduk berlama-lama disampingmu mendengarkan kamu bercerita ini dan itu. bukan bercerita tentang hubungan kita yang sudah berjalan tiga tahun ini, bukan! Tapi sejam, dua jam bahkan beberapa jam aku duduk bersamamu yang kudengar hanya cerita-ceritamu tentang mereka. Tentang kekasihnya temanmu yang kaya raya, tentang mantan pacarmu yang sekarang sudah menjadi pengusaha hebat, tentang teman baik priamu itu yang sekarang sering menghubungimu dan lain sebagainya. Saat mendengarmu bercerita yang kulakukan hanya terus tersenyum saja, berusaha agar kamu tak cepat menebak soal sebelah mana hatiku yang perih duluan.

Ah... sudahlah sayang.. teruslah seperti ini, bukankah aku sudah berjanji bahwa apa yang membuatmu bahagia itu juga bahagia untukku ? tapi sepertinya tidak dengan hal-hal yang kamu ceritakan padaku itu sayang. Bagaimana bisa aku membahagiakanmu dengan terus berada disampingmu jika yang membuatmu bahagia bukan disini, sisiku. Tapi disamping orang-orang itu. bagaimana bisa nanti aku memilihmu menjadi satu-satunya Wanita untuk anak-anak kita nanti jika untuk menganggapku sebagai lelaki satu-satunya untukmu jarang untuk kamu lakukan.

L.E.L.A.H !!! Itu saja yang kutahu sekarang. Bukan lagi cinta atau perasaan ingin membahagiakanmu, bukan lagi tentang itu. bukan. Jadi sayang.. bisakah aku beristirahat sekarang ? bukan ingin meminjam pahamu untuk menyandarkan kepalaku disana, bukan. Tapi aku ingin berjalan jauh saja. Sejauh mungkin.. kalau bisa tanpa melihatmu lagi. ya seperti itu mungkin akan jauh lebih membuatku baik. Aku pergi...

18 komentar:

  1. Sedih ya mbak :(
    Masih ada lanjutannya ya?

    BalasHapus
  2. apakah dia merasakan kalau kamu lelah?

    BalasHapus
  3. Yaaaaah baru muncul kok pergi lagi ai ??? :D

    BalasHapus
  4. dimana2 klw cewek lagi galau ceritanya bisa panjang banget yak . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. Lg ngk galau mbak. Ini fiksi :))

      Hapus
  5. katanya nay dari amrik ea, ai?

    BalasHapus
  6. Aaahhhh *Lap ingus*
    Fiksi kah ini???

    BalasHapus
  7. Wow, masih fokus dengan keahlian lo nulis fiksi beginian ya Nis. hehe

    BalasHapus

selesai membaca, ayo tinggalkan kritik dan saran teman-teman :)