Rabu, 12 Juni 2013

"Kita"

Kita akan tetap seperti ini, menikmati setiap perjalanan sambil bergandengan tangan.. 

 

Sambil bercerita segala hal ini dan itu, lalu kita sama-sama tertawa sebahagia mungkin dibawah lapisan kebahagiaan yang 'Kita' punya..

 

"Kita akan bahagia, itu sudah pasti".

 

Jadi tetaplah disini dan jangan berkeras kepala dan meninggikan ego untuk saling melepaskan.

Rabu, 15 Mei 2013

Kepada kamu Saudari Anisa..

Kepada kamu Saudari Anisa, yang hampir dua tahun terakhir ini mengisi setiap spasi hari saya.. maukah kamu mendengarkan saya bercerita panjang lebar tentang rencana kedepan kita nanti?

Jadi begini, ahh.. seperti apa ya kira-kira bahasa kata yang paling terbaik untuk memulai pidatoku ini didepanmu ? Rasanya denyutan didalam dada saya  makin tak karuan rasanya, tiap kali terpikirkan kalimat-kalimat itu yang akan saya utarakan sekarang rasanya makin membuat aliran-aliran darah saya makin kencang peredarannya. Oh.. God apa-apaan ini ? ayolah.. buat saya makin bisa untuk bisa tenang walau hanya semenit saja. untuk kali ini saja.

Hmmm... Ahhh... saya baru saja selesai menarik nafas nis dan saya melihat lekuk senyummu itu yang keheranan melihat tingkah saya aneh tak menentu seperti ini. Hmm... jadi begini Saudari Anisa.. saya butuh seorang Leadership untuk hidup saya. Dan saya memilihmu untuk memdampingi saya. Maukah kamu ?

Hmm.. mungkin kata-kata saya barusan terdengar formal jadi maksud saya maukah kamu saat bangun pagi pertama yang kamu liat wajah saya yang masih tertidur pulas didepanmu ? menemani saya untuk sarapan pagi dan merasakan masakan-masakanmu yang walau katamu, masakanmu tak seenak masakan Ibu saya. Ya, tak apa-apa saya akan menikmatinya.

Maukah kamu sholat berjama'ah dengan saya ? dan kita sama-sama berdoa diatas dua sejadah yang ada. Saat kamu sedang PMS dan tak ada yang bisa kamu tonjok, tonjoklah saya. Saat kamu ngidam dan saya menemanimu. Membelikan kamu Magnum, asinan, nasi rendang, martabak ataupun membuatkanmu bubur encer saat flu menyerangmu nis.

Maukah kamu berbagi tugas menggantikan popok anak kita nanti ? saya akan belajar bagaimana caranya, biar nanti saat kamu sedang tertidur lelap dimalam hari saya tak perlu membangunkan tidurmu nis. Kelak juga ketika anak kita bertanya pertanyaan lucu soal dia lahir dari mana dan bagaimana cara dia bisa ada, nanti juga saya akan membantuimu nis. Menjawab dengan lucu juga pertanyaan anak kita nanti.
Saat mereka beranjak dewasa, saya juga kan membantumu untuk mencarikan mereka Universitas yang terbaik untuk pendidikan mereka kelak.

Maukah kamu nis saat usia saya tak muda lagi dan kamu mengurusi uban-uban saya ini ? kita berdua saling tertawa lucu saat sama-sama menikmati teh hangat dan sama-sama merasa lucu pula ketika lekuk keriput kita berdua mulai nampak.

Jadi Saudari Anisa.. maukah kamu menjadi makmum satu-satunya untuk hidup saya ? kamu berdiri satu syaf dibelakang saya nanti untuk hari itu hingga nanti.
Saudari Anisa.. untuk hari ini juga hari-hari selanjutnya, dengakan ini.. Menikahlah dengan saya.

Tak ada suara lebih yang keluar dari bibirmu saat itu, hanya anggukan kepala menandakan 'iya' dan beberapa tetesan air matamu yang jatuh  dipelukanku.



Jumat, 26 April 2013

Kata Mereka.. [dan aku melepaskanmu]



Kata mereka agar bisa melupakanmu, yang harus kulakukan ialah berbahagia lagi tanpa harus mengingat setiap sudut cerita tentang kita dulu. Iya, mereka begitu memperhatikanku pada saat ini karena mungkin merasa sangat kasihan karena kepergianmu yang menyulitkan pagi hingga malamku. Aku mencoba menuruti apa yang menjadi saran mereka. Ya, aku berbahagia lagi. Tapi sayangnya tingkat bahagiaku sekarang hanya sampai batas dimana suasana disekitarku terasa ramai. Tidak seperti pada waktu itu saat masih bersamamu, aku selalu saja merasa lebih bahagia mesti suasana sunyi senyap seperti ini.  Kali ini gagal ! Apa yang menjadi saran mereka tak mampu membendung luka dalam dihatiku yang sudah bernana bekas irisan pengkhianatanmu.

Kata mereka juga agar bisa dengan  mudah melupakanmu yang harus kulakukan sekarang ialah mencoba menyibukan diriku sendiri agar tak ada spasi di 24 jam hariku yang bisa saja terisi bayangmu lagi ketika aku jedah.  Aku melakukannya. Kembali mengikuti saran baik mereka demi kebaikanku. Aku mencoba sesibuk mungkin, mempadatkan jadwal kerjaku tapi pada akhirnya aku meresa jedah juga dan ahh.. sial aku malah lagi-lagi membiarkan isi otakku berputar dan kembali membayangkanmu disini. Disisiku. Ahh.. ini sakit sekali rasanya.
Kali ini apa yang menjadi saran baik mereka  gagal kulakukan. Maaf. Untuk setiap usahaku untuk melupakanmu selalu saja diliputi rasa susah yang jika dilakukannya sungguh sangat melelahkan.

Kata mereka lagi jika ingin melupakanmu yang harus kulakukan ialah membuang jauh-jauh kebiasaan yang biasa kulakukan bersamamu dulu. Ya, dengan sedikit berusaha keras lagi-lagi aku menuruti saran baik mereka. Aku melakukannya dengan membuang beberapa barang yang pernah kita beli bersama. Beberapa album yang memajang wajahmu juga ikut kumasukan di salah satu kardus besar. Beberapa rekaman suara-suara indahmu juga sudah kuhapus. Video yang juga kurekam saat di acara wisudamu juga sudah terdelete. Ternyata mudah ya caranya untuk menghapus segala kebiasaan bersamamu. Iya.. mudah menghapusnya saja ternyata, tapi pada akhirnya setelah beberapa hal itu musnah batinku seperti ikut diporak porandakan. Lagi-lagi aku gagal melakukannya. Ahh.. bodoh !

Kali ini aku berhenti beristirahat sebentar, tanpa mendengarkan kembali apa yang menjadi saran mereka. Kali ini aku mencobanya sendiri perlahan demi perlahan kembali untuk membiasakan diri tanpamu sama sekali. 
Hingga pada akhirnya Tuhan memberiku jalan dengan mempertemukanku dengan sosok wanita. Dia memang tak secantik dirimu, yang jika dirimu berjalan saja semua mata pria pasti tertujuh padamu.
Dia tak sesexy dirimu yang pria mana saja biasa kamu pikat dengan tempo waktu yang cepat. Dia tak sekaya kamu yang apa saja biasa kamu beli sesuka hatimu. Tapi dia lebih memposona darimu

Dia mengajarkanku untuk biasa dengan ikhlas menghapus sakit hati yang ada pada waktu itu. Dia mengajarkanku untuk bisa selalu memaafkan. Dia mengajarkanku bahwa jatuh cintalah pada sosok yang tepat yang mampu menyayangiku meski dalam situasi tersulit pun. Dia juga mengajariku bagaimana caranya agar bisa Move On dan berhenti mengaharapkanmu yang tak mengharapkanku. Bahwa ternyata katanya tingkat tertinggi suatu keikhlasan itu letaknya bukan pada saat kita harus merusaha keras untuk melupakan tapi bagaimana kita bisa mecoba menerima situasi yang ada, mendoakan keadaan yang ada dan tetap menyakini bahwa Tuhan sedang menyingkirkan kita dari seorang pengkhianat yang tidak bersedia menua bersama kita.

Dia menemaniku sekarang, meneduhkan setiap hari-hariku tanpa paksaan, tanpa sogokan tapi karena cinta dan Tuhanlah yang membawakannya hadir dan menemuiku hingga menjadi sekarang seperti saat ini. Ya, dia pendamping hidupku juga Ibu untuk anak-anakku. Dia istriku. Sekarang hingga selamanya.