Ruang ini kuberi nama 'RINDU'. seberapa sering aku merindukanmu maka aku akan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sini, ruangan itu adalah KAMU!
Rabu, 12 Juni 2013
Rabu, 15 Mei 2013
Kepada kamu Saudari Anisa..
Kepada kamu Saudari Anisa, yang hampir dua tahun terakhir ini mengisi setiap spasi hari saya.. maukah kamu mendengarkan saya bercerita panjang lebar tentang rencana kedepan kita nanti?
Jadi begini, ahh.. seperti apa ya kira-kira bahasa kata yang paling terbaik untuk memulai pidatoku ini didepanmu ? Rasanya denyutan didalam dada saya makin tak karuan rasanya, tiap kali terpikirkan kalimat-kalimat itu yang akan saya utarakan sekarang rasanya makin membuat aliran-aliran darah saya makin kencang peredarannya. Oh.. God apa-apaan ini ? ayolah.. buat saya makin bisa untuk bisa tenang walau hanya semenit saja. untuk kali ini saja.
Hmmm... Ahhh... saya baru saja selesai menarik nafas nis dan saya melihat lekuk senyummu itu yang keheranan melihat tingkah saya aneh tak menentu seperti ini. Hmm... jadi begini Saudari Anisa.. saya butuh seorang Leadership untuk hidup saya. Dan saya memilihmu untuk memdampingi saya. Maukah kamu ?
Hmm.. mungkin kata-kata saya barusan terdengar formal jadi maksud saya maukah kamu saat bangun pagi pertama yang kamu liat wajah saya yang masih tertidur pulas didepanmu ? menemani saya untuk sarapan pagi dan merasakan masakan-masakanmu yang walau katamu, masakanmu tak seenak masakan Ibu saya. Ya, tak apa-apa saya akan menikmatinya.
Maukah kamu sholat berjama'ah dengan saya ? dan kita sama-sama berdoa diatas dua sejadah yang ada. Saat kamu sedang PMS dan tak ada yang bisa kamu tonjok, tonjoklah saya. Saat kamu ngidam dan saya menemanimu. Membelikan kamu Magnum, asinan, nasi rendang, martabak ataupun membuatkanmu bubur encer saat flu menyerangmu nis.
Maukah kamu berbagi tugas menggantikan popok anak kita nanti ? saya akan belajar bagaimana caranya, biar nanti saat kamu sedang tertidur lelap dimalam hari saya tak perlu membangunkan tidurmu nis. Kelak juga ketika anak kita bertanya pertanyaan lucu soal dia lahir dari mana dan bagaimana cara dia bisa ada, nanti juga saya akan membantuimu nis. Menjawab dengan lucu juga pertanyaan anak kita nanti.
Saat mereka beranjak dewasa, saya juga kan membantumu untuk mencarikan mereka Universitas yang terbaik untuk pendidikan mereka kelak.
Maukah kamu nis saat usia saya tak muda lagi dan kamu mengurusi uban-uban saya ini ? kita berdua saling tertawa lucu saat sama-sama menikmati teh hangat dan sama-sama merasa lucu pula ketika lekuk keriput kita berdua mulai nampak.
Jadi Saudari Anisa.. maukah kamu menjadi makmum satu-satunya untuk hidup saya ? kamu berdiri satu syaf dibelakang saya nanti untuk hari itu hingga nanti.
Saudari Anisa.. untuk hari ini juga hari-hari selanjutnya, dengakan ini.. Menikahlah dengan saya.
Tak ada suara lebih yang keluar dari bibirmu saat itu, hanya anggukan kepala menandakan 'iya' dan beberapa tetesan air matamu yang jatuh dipelukanku.
Jadi begini, ahh.. seperti apa ya kira-kira bahasa kata yang paling terbaik untuk memulai pidatoku ini didepanmu ? Rasanya denyutan didalam dada saya makin tak karuan rasanya, tiap kali terpikirkan kalimat-kalimat itu yang akan saya utarakan sekarang rasanya makin membuat aliran-aliran darah saya makin kencang peredarannya. Oh.. God apa-apaan ini ? ayolah.. buat saya makin bisa untuk bisa tenang walau hanya semenit saja. untuk kali ini saja.
Hmmm... Ahhh... saya baru saja selesai menarik nafas nis dan saya melihat lekuk senyummu itu yang keheranan melihat tingkah saya aneh tak menentu seperti ini. Hmm... jadi begini Saudari Anisa.. saya butuh seorang Leadership untuk hidup saya. Dan saya memilihmu untuk memdampingi saya. Maukah kamu ?
Hmm.. mungkin kata-kata saya barusan terdengar formal jadi maksud saya maukah kamu saat bangun pagi pertama yang kamu liat wajah saya yang masih tertidur pulas didepanmu ? menemani saya untuk sarapan pagi dan merasakan masakan-masakanmu yang walau katamu, masakanmu tak seenak masakan Ibu saya. Ya, tak apa-apa saya akan menikmatinya.
Maukah kamu sholat berjama'ah dengan saya ? dan kita sama-sama berdoa diatas dua sejadah yang ada. Saat kamu sedang PMS dan tak ada yang bisa kamu tonjok, tonjoklah saya. Saat kamu ngidam dan saya menemanimu. Membelikan kamu Magnum, asinan, nasi rendang, martabak ataupun membuatkanmu bubur encer saat flu menyerangmu nis.
Maukah kamu berbagi tugas menggantikan popok anak kita nanti ? saya akan belajar bagaimana caranya, biar nanti saat kamu sedang tertidur lelap dimalam hari saya tak perlu membangunkan tidurmu nis. Kelak juga ketika anak kita bertanya pertanyaan lucu soal dia lahir dari mana dan bagaimana cara dia bisa ada, nanti juga saya akan membantuimu nis. Menjawab dengan lucu juga pertanyaan anak kita nanti.
Saat mereka beranjak dewasa, saya juga kan membantumu untuk mencarikan mereka Universitas yang terbaik untuk pendidikan mereka kelak.
Maukah kamu nis saat usia saya tak muda lagi dan kamu mengurusi uban-uban saya ini ? kita berdua saling tertawa lucu saat sama-sama menikmati teh hangat dan sama-sama merasa lucu pula ketika lekuk keriput kita berdua mulai nampak.
Jadi Saudari Anisa.. maukah kamu menjadi makmum satu-satunya untuk hidup saya ? kamu berdiri satu syaf dibelakang saya nanti untuk hari itu hingga nanti.
Saudari Anisa.. untuk hari ini juga hari-hari selanjutnya, dengakan ini.. Menikahlah dengan saya.
Tak ada suara lebih yang keluar dari bibirmu saat itu, hanya anggukan kepala menandakan 'iya' dan beberapa tetesan air matamu yang jatuh dipelukanku.
Jumat, 26 April 2013
Kata Mereka.. [dan aku melepaskanmu]
Kata mereka agar bisa melupakanmu, yang harus
kulakukan ialah berbahagia lagi tanpa harus mengingat setiap sudut cerita
tentang kita dulu. Iya, mereka begitu memperhatikanku pada saat ini karena
mungkin merasa sangat kasihan karena kepergianmu yang menyulitkan pagi hingga
malamku. Aku mencoba menuruti apa yang menjadi saran mereka. Ya, aku berbahagia
lagi. Tapi sayangnya tingkat bahagiaku sekarang hanya sampai batas dimana
suasana disekitarku terasa ramai. Tidak seperti pada waktu itu saat masih bersamamu,
aku selalu saja merasa lebih bahagia mesti suasana sunyi senyap seperti
ini. Kali ini gagal ! Apa yang menjadi
saran mereka tak mampu membendung luka dalam dihatiku yang sudah bernana bekas
irisan pengkhianatanmu.
Kata mereka juga agar bisa dengan mudah melupakanmu yang harus kulakukan
sekarang ialah mencoba menyibukan diriku sendiri agar tak ada spasi di 24 jam
hariku yang bisa saja terisi bayangmu lagi ketika aku jedah. Aku melakukannya. Kembali mengikuti saran
baik mereka demi kebaikanku. Aku mencoba sesibuk mungkin, mempadatkan jadwal
kerjaku tapi pada akhirnya aku meresa jedah juga dan ahh.. sial aku malah
lagi-lagi membiarkan isi otakku berputar dan kembali membayangkanmu disini.
Disisiku. Ahh.. ini sakit sekali rasanya.
Kali ini apa yang menjadi saran baik mereka gagal kulakukan. Maaf. Untuk setiap usahaku
untuk melupakanmu selalu saja diliputi rasa susah yang jika dilakukannya
sungguh sangat melelahkan.
Kata mereka lagi jika ingin melupakanmu yang harus
kulakukan ialah membuang jauh-jauh kebiasaan yang biasa kulakukan bersamamu
dulu. Ya, dengan sedikit berusaha keras lagi-lagi aku menuruti saran baik
mereka. Aku melakukannya dengan membuang beberapa barang yang pernah kita beli
bersama. Beberapa album yang memajang wajahmu juga ikut kumasukan di salah satu
kardus besar. Beberapa rekaman suara-suara indahmu juga sudah kuhapus. Video yang juga kurekam saat di acara wisudamu juga sudah terdelete. Ternyata mudah ya
caranya untuk menghapus segala kebiasaan bersamamu. Iya.. mudah menghapusnya
saja ternyata, tapi pada akhirnya setelah beberapa hal itu musnah batinku
seperti ikut diporak porandakan. Lagi-lagi aku gagal melakukannya. Ahh.. bodoh
!
Kali ini aku berhenti beristirahat sebentar, tanpa
mendengarkan kembali apa yang menjadi saran mereka. Kali ini aku mencobanya
sendiri perlahan demi perlahan kembali untuk membiasakan diri tanpamu sama
sekali.
Hingga pada akhirnya Tuhan memberiku jalan dengan mempertemukanku
dengan sosok wanita. Dia memang tak secantik dirimu, yang jika dirimu berjalan
saja semua mata pria pasti tertujuh padamu.
Dia tak sesexy dirimu yang pria mana saja biasa kamu
pikat dengan tempo waktu yang cepat. Dia tak sekaya kamu yang apa saja biasa kamu
beli sesuka hatimu. Tapi dia lebih memposona darimu.
Dia mengajarkanku untuk biasa
dengan ikhlas menghapus sakit hati yang ada pada waktu itu. Dia mengajarkanku
untuk bisa selalu memaafkan. Dia mengajarkanku bahwa jatuh cintalah pada sosok
yang tepat yang mampu menyayangiku meski dalam situasi tersulit pun. Dia juga
mengajariku bagaimana caranya agar bisa Move On dan berhenti mengaharapkanmu
yang tak mengharapkanku. Bahwa ternyata katanya tingkat tertinggi suatu
keikhlasan itu letaknya bukan pada saat kita harus merusaha keras untuk
melupakan tapi bagaimana kita bisa mecoba menerima situasi yang ada, mendoakan
keadaan yang ada dan tetap menyakini bahwa Tuhan sedang menyingkirkan kita dari
seorang pengkhianat yang tidak bersedia menua bersama kita.
Dia menemaniku sekarang, meneduhkan setiap
hari-hariku tanpa paksaan, tanpa sogokan tapi karena cinta dan Tuhanlah yang
membawakannya hadir dan menemuiku hingga menjadi sekarang seperti saat ini. Ya, dia pendamping hidupku juga Ibu
untuk anak-anakku. Dia istriku. Sekarang hingga selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)