Aku mencintaimu....
Itu kalimat yang selalu kuucapkan padamu dimasa-masa dimana aku sedang berjuang-juangnya mempertahankan rasaku. (Waktu itu).
Waktu itu juga aku nampak begitu menyedihkan. Menunggu kabarmu,mengukur jarak kita pada saat itu dan menghitung seberapa jauhnya waktu kita pada saat itu. Aku juga sangat polos-polosnya saat itu, yang sudah begitu kuatnya menyakinkan hatiku sendiri bahwa kepadamulah saja hatiku berhenti mencari. Lalu pada saat itu apa kamu juga menyakini hal yang sama sepertiku ? TIDAK! Tidak untuk saat itu.
Waktu itu mungkin aku seperti pemeran utama wanita di film Ada Apa Dengan Cinta, yang melepas kepergianmu di airport sambil berharap cemas bahwa apakah air mata yang jatuh dipagi hari itu ialah tanda bahwa kamu akan pergi dan tidak akan kembali untuk alasan yang sama ? Dan kecemasanku pun terjawab begitu saja. Kamu pergi,untuk alasan yang sama. Meninggalkanku.
....Lalu apa yang terjadi sekarang ?
"Aku Merindukanmu..." Katamu.
Kamu merindukanku lagi disaat durasi waktuku menunggumu sudah habis ditelan egomu melepaskanku saat itu. Kamu merindukanku lagi saat ini dimana rasaku sudah benar-benar tidak ada sama sekali untukmu. Kamu merindukanku lagi saat ini disaat aku berkata "Sudah bukan kamu lagi yang membuatku berhenti untuk mencari". Jika sudah seperti ini pantaskan kamu untuk menyalahkanku ? Jika benar kamu menyalahkanku itu ialah tindakan terbodoh yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri.
Sebab, aku bukanlah Cinta pemeran utama wanita difilm kesukaan kita dijaman sekolah dulu, yang masih tetap mencintai rangga meski 14 tahun waktu memisahkan mereka. Kamu juga bukanlah Rangga, yang harus pergi jauh meninggalkan untuk alasan yang bisa dimaafkan. Kamu adalah kamu, aku juga adalah aku. Yang awalnya punya mimpi yang sama untuk hidup bahagia bersama tapi takdir saat ini berkata lain dan membawaku harus membangun mimpi yang baru dipelukan yang lain yang lebih bisa membuatku bersyukur bahwa ternyata dicintai dengan tulus seperti ini rasanya.
Jika di film Ada Apa Dengan Cinta 2 sekarang endingnya Cinta harus melepaskan tunangannya yang sekarang yang sudah menemaninya ketika Rangga pergi belasan tahun lamanya dan mereka kembali bersama, maka yang kulakukan sekarang tidaklah demikian. Sebab aku bukanlah Cinta dan kamu juga Bukanlah Rangga. Kita hanyalah dua orang yang diajarkan untuk lebih dewasa lewat beberapa masalah yang telah kita lewati dihari itu.
Pergilah kembali keduniamu. Aku sudah cukup kuat sekarang menghadapi dunia baruku dengan segala pertimbangan matang soal apa-apa saja yang akan terjadi nanti. Jadi bisakah untuk kita sama-sama sadar bahwa kita bukanlah sepasang Cinta dan Rangga ?
Aku harap kamu bisa memahami hal ini. Sama dimana ketika aku bisa benar-benar memahami dengan baik dan ikhlas soal kenapa kamu menyakitiku dan melepaskanku diwaktu itu.
Ruang ini kuberi nama 'RINDU'. seberapa sering aku merindukanmu maka aku akan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sini, ruangan itu adalah KAMU!
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 Mei 2016
Jumat, 13 Mei 2016
DIA...
Kenapa kamu harus memilih dia ? itu pertanyaanmu beberapa menit yang lalu. Kenapa tidak saja denganku ? Denganku kamu akan jauh lebih bahagia. Lanjutmu lagi sebelum aku menjawab pertanyaan pertamamu. Nada suaramu terdengar meninggi, durasi obrolan kita yang hanya lima menit terasa begitu lama dan sangat membosankan mendengarmu menanyakan pertanyaan yang sama soal; kenapa harus dia ?
Aku mencoba mengatur nafasku, mencoba mengerti egomu saat itu. Mencoba untuk bisa menemukan kembali rasa kemarin yang begitu banyak sudah kutitipkan padamu. Mencoba untuk mengingat-ingat lagi kenangan-kenangan apa saja yang telah kita lewati dihari kemarin. Mencoba untuk mengingat lagi dibulan-bulan keberapa kamu menyakiti hatiku dan aku, yang begitu cinta-cintanya padamu (saat itu) memilih untuk selalu saja memaafkanmu. Dan kau tahu apa yang terjadi ? aku berhasil tidak menemukanmu lagi disana.
Dulu ketika kamu melakukan kesalahan apa saja aku selalu menjadi malaikat terbaikmu. memaafkanmu dan mencintaimu secara ulang. Dimoment ketika saat kita masih bersamapun ketika kamu sekeras memaksa seperti sekarang ini pun aku pasti sudah langsung luluh menerimamu lagi dan mengabaikan yang lain yang bisa saja saat itu lebih baik darimu. Haa.. saat itu aku sedang cinta-cintanya dan kamu saja yang tidak begitu serius. Dan kau tahu,ketika kamu memaksa seperti ini, membawa alasan bahwa kamu mencintaiku yang tersisa sekarang ialah rasa yang sudah terlanjur menjadi debu.
Kamu lupa satu hal bahwa; saat itu aku bisa mencintaimu segitu dalamnya (meski kau mengabaikannya). Dan orang lain bisa mencintaiku melebihi cintamu. Jadi jika sudah seperti ini haruskah aku menjelaskan secara rinci sekarang kenapa aku lebih memilih menaruh kebahagiaku sekarang untuk sama-sama memulai kebahagian yang baru dengannya ?
Dia tidak sepertimu. Kamu pun tak seperti dia. Kalian dua orang yang berbeda. Mungkin pada saat itu cara mencintaiku padamu yang berlebihan dan sekarang pun kamu baru bisa merasakan betapa kerasnya dulu aku menyakinkanmu. Aku tidak menyebut ini karma. tidak. Sebab aku bukan Tuhan dan Tuhan pun bisa melihat semuanya tanpa perlu aku menjelaskan segalanya soal bagaimana luluh lantanya hatiku pada saat itu. Saat bersamamu.
Jadi kenapa aku memilih dia ? Entahlah. tidak ada kalimat penjelasan yang rumit disini untuk harus menjelaskannya. Kenapa aku harus jatuh hati padanya ? Entahlah. Sebab hanya detak jantunglah yang bisa menjawab semuanya. Kenapa harus memilih untuk meneruskan bahagia dengannya ? Kali ini jawabannya bukan entahlah, sebab aku tahu Tuhanlah yang mengantar segala doa-doaku untuk dipertemukan segala doa-doa baikku untuk bersamanya. Tuhanlah juga yang membuat debaran jantungku melaju tak karuan jika sedang bersama atau sedang memikirkannya.
Lalu disini pun aku bertanya padamu "Adakah bahagia yang lebih tulus selain rasa bersyukur ?". Mungkin waktu itu kamu tidak begitu bersyukur saat bersamaku. Jadi sekarang aku yang harus merasa lebih bersyukur sekarang saat dia yang sekarang mau memilihku untuk melanjutkan cerita bersama.
Aku sudah begitu bahagia sekarang. Bukan karena ingin memanas-manasimu. Tidak seperti itu. tapi karena aku sudah bisa mencintainya secara ikhlas sekarang, tanpa memikirkanmu dan tanpa harus mengingat-ingatmu lagi. Tidak lagi.
Dia.. itu saja sekarang.
______
......Anji - Dia.
Aku mencoba mengatur nafasku, mencoba mengerti egomu saat itu. Mencoba untuk bisa menemukan kembali rasa kemarin yang begitu banyak sudah kutitipkan padamu. Mencoba untuk mengingat-ingat lagi kenangan-kenangan apa saja yang telah kita lewati dihari kemarin. Mencoba untuk mengingat lagi dibulan-bulan keberapa kamu menyakiti hatiku dan aku, yang begitu cinta-cintanya padamu (saat itu) memilih untuk selalu saja memaafkanmu. Dan kau tahu apa yang terjadi ? aku berhasil tidak menemukanmu lagi disana.
Dulu ketika kamu melakukan kesalahan apa saja aku selalu menjadi malaikat terbaikmu. memaafkanmu dan mencintaimu secara ulang. Dimoment ketika saat kita masih bersamapun ketika kamu sekeras memaksa seperti sekarang ini pun aku pasti sudah langsung luluh menerimamu lagi dan mengabaikan yang lain yang bisa saja saat itu lebih baik darimu. Haa.. saat itu aku sedang cinta-cintanya dan kamu saja yang tidak begitu serius. Dan kau tahu,ketika kamu memaksa seperti ini, membawa alasan bahwa kamu mencintaiku yang tersisa sekarang ialah rasa yang sudah terlanjur menjadi debu.
Kamu lupa satu hal bahwa; saat itu aku bisa mencintaimu segitu dalamnya (meski kau mengabaikannya). Dan orang lain bisa mencintaiku melebihi cintamu. Jadi jika sudah seperti ini haruskah aku menjelaskan secara rinci sekarang kenapa aku lebih memilih menaruh kebahagiaku sekarang untuk sama-sama memulai kebahagian yang baru dengannya ?
Dia tidak sepertimu. Kamu pun tak seperti dia. Kalian dua orang yang berbeda. Mungkin pada saat itu cara mencintaiku padamu yang berlebihan dan sekarang pun kamu baru bisa merasakan betapa kerasnya dulu aku menyakinkanmu. Aku tidak menyebut ini karma. tidak. Sebab aku bukan Tuhan dan Tuhan pun bisa melihat semuanya tanpa perlu aku menjelaskan segalanya soal bagaimana luluh lantanya hatiku pada saat itu. Saat bersamamu.
Jadi kenapa aku memilih dia ? Entahlah. tidak ada kalimat penjelasan yang rumit disini untuk harus menjelaskannya. Kenapa aku harus jatuh hati padanya ? Entahlah. Sebab hanya detak jantunglah yang bisa menjawab semuanya. Kenapa harus memilih untuk meneruskan bahagia dengannya ? Kali ini jawabannya bukan entahlah, sebab aku tahu Tuhanlah yang mengantar segala doa-doaku untuk dipertemukan segala doa-doa baikku untuk bersamanya. Tuhanlah juga yang membuat debaran jantungku melaju tak karuan jika sedang bersama atau sedang memikirkannya.
Lalu disini pun aku bertanya padamu "Adakah bahagia yang lebih tulus selain rasa bersyukur ?". Mungkin waktu itu kamu tidak begitu bersyukur saat bersamaku. Jadi sekarang aku yang harus merasa lebih bersyukur sekarang saat dia yang sekarang mau memilihku untuk melanjutkan cerita bersama.
Aku sudah begitu bahagia sekarang. Bukan karena ingin memanas-manasimu. Tidak seperti itu. tapi karena aku sudah bisa mencintainya secara ikhlas sekarang, tanpa memikirkanmu dan tanpa harus mengingat-ingatmu lagi. Tidak lagi.
Dia.. itu saja sekarang.
______
......Anji - Dia.
Rabu, 11 Mei 2016
Untuk Aroma Kopi dan Teh Hangatmu... (Semoga).
Kita masih berada didalam rumah yang berbeda sekarang. Kamu bersama mereka, sibuk dengan aktivitasmu, tertawa dan ngobrol bersama teman-temanmu dan hal lainnya sedang kamu lakukan sekarang dan sebaliknya begitu juga denganku. Kita masih sama-sama di spasikan jarak dan debaran jantung yang saling mengira-ngira kapan untuk segera dipertemukan ?
Untuk sekarang bisakah kita berdua sama-sama bisa bersabar dulu ? Kita sama-sama saling memperbanyak doa dan saling memperbaiki diri agar nanti jika dipertemukan kita tidak terlalu susah lagi untuk saling menyamakan hati dan pikiran. Kamu tenanglah disitu, tetap doakan perjumpaan kita agar segera dipertemukan.
Untuk aroma kopi dan teh hangatmu yang nanti aromanya akan sama-sama tercium di bawah atap yang sama. Semoga....
Mungkin sekarang kamu sedang membayangkan wajahku. Sedang begitunya merayu Tuhan agar sekilas saja memperlihatkan bagaimana raut wajahku,postur tubuhku atau mungkin saja sedikit suaraku agar nanti kamu bisa lebih mengenaliku kapan saja jika nanti secara kebetulan kita dipertemukan ditempat yang tidak kita tahu. Atau mungkin saja saat ini kamu sedang memikirkan seperti apa nanti Pria yang nantinya akan menggantikan tugas Ayahmu untuk mencintaimu hingga akhir nanti.
Apa juga sekarang kamu sedang memikirkan aku bekerja dimana ? berapa jumlah saudaraku dan dari mana asalku ? atau adakah hal lain yang kamu pikirkan disaat kita sama-sama belum dipertemukan seperti sekarang ini ?
Apa juga sekarang kamu sedang memikirkan aku bekerja dimana ? berapa jumlah saudaraku dan dari mana asalku ? atau adakah hal lain yang kamu pikirkan disaat kita sama-sama belum dipertemukan seperti sekarang ini ?
Bukan hanya kamu, aku juga sedang memikirkanmu. Membayangkan lembutnya jilbabmu, senyumanmu dan sapaanmu ketika kelak kita dihalalkan untuk hidup bersama nanti. Ahh.. kenapa aku begitu sejatuh cinta seperti ini padahal aku sendiri tidak tahu dimana keberadaanmu sekarang. Atau jangan-jangan Tuhan sedang menggerakan isi hatiku untuk berimajinasi bebas tentangmu dan bisa saja Ia sedang memberikan tanda padaku bahwa kita akan segera dipertemukan ? Jika benar demikian semoga itu tak lama lagi.
Untuk sekarang bisakah kita berdua sama-sama bisa bersabar dulu ? Kita sama-sama saling memperbanyak doa dan saling memperbaiki diri agar nanti jika dipertemukan kita tidak terlalu susah lagi untuk saling menyamakan hati dan pikiran. Kamu tenanglah disitu, tetap doakan perjumpaan kita agar segera dipertemukan.
Untuk aroma kopi dan teh hangatmu yang nanti aromanya akan sama-sama tercium di bawah atap yang sama. Semoga....
Senin, 09 Mei 2016
Aku Menyukaimu...
Kamu tahu ? Apa ?
Oh belum. Aku seharusnya tidak menanyakan pertanyaan sestandar itu karena
sebelumnya aku belum memberitahumu. Jadi begini, aku menyukaimu. Oh bukan. Hmm
tidak. Ehh.. ahh kenapa se-kaku ini untuk mengatakannya. Tunggu! Aku seharusnya harus menenangkan dulu debaran detak
jantungku yang detakannya sedang tak beraturan. Hmm baiklah..
Begini, sekarang sudah cukup tenang debarannya. Aku
menyukaimu. Sejak kapan ? sejak
dimana debaran jantungku berdebar begitu saja ketika; harus ada pembahasan
tentang kamu,tanpa sengaja harus bertemu,kerja diruangan yang sama,makan siang
atau malam bersama,jalan-jalan bersama meski tidak hanya kita berdua saja
karena ada teman-teman kita juga. Dan
masih banyak lagi jawabannya soal sejak kapan aku menyukaimu.
Aku menyukaimu. Kenapa
? Entahlah. Aku tidak pernah sebelumnya merencanakan untuk jatuh hati
padamu separah ini. Aku tidak pernah memprediksikan kalau-kalau hatiku bisa
sekuat ini dalam zonamu. Tapi yang pastinya aku hanya ingin mencintai dengan sederhana
dengan caraku saja,tidak ribet tapi bisa bertahan untuk jangka waktu yang lebih
lama selamanya lagi.
Aku menyukaimu. Sampai
kapan ? Entahlah. Hatiku juga hatimu,kita tidak bisa sama-sama
memprediksikan sampai kapan perasaan ini berlangsung. Tapi kamu harus tahu
bahwa aku tidak pernah lalai untuk memohon pada Sang Pemilik Perasaan ini agar
jika bisa biar kamu saja yang ada dan selalu saja ada kapanpun dan
bagaimanapun. Aku menyukai segala hal-hal apa saja yang ada padamu. Aku menyukai
caramu saat sedang seriusnya menatap layar laptopmu. Aku menyukaimu saat; kamu
sedang tertawa karena aku berhasil menceritakan cerita lucu,saat kamu mengeluh
karena berat badanmu naik,saat kamu kebigungan untuk cari costum yang cocok
dengan seleramu pada saat kita ingin jalan atau kemana saja (berdua). Saat kamu
mulai menceritakan kabar pekerjaanmu,teman-teman kantormu dan genkmu. Dan masih
banyak lagi. Aku menyukainya. S-e-m-u-a-n-y-a….
Jadi bisakah agar kamu disini saja dulu ? ahh bukan seperti itu seharusnya caraku
bertanya. Maksudku bisakah agar kamu tetap disini saja bersamaku ? bersama
sesebahagia mungkin. Berdua saja,saling mencintai dan tidak saling memberikan
jalan untuk tidak saling menyakiti. Bagaimana
?
Rabu, 07 Oktober 2015
Aku iri padamu...
Aku iri padamu. Aku iri dengan caramu mencintaiku. Bagaimana keikhlasanmu mencintaku, sementara hatiku masih jauh mengharapkannya yang caranya mencintaiku sungguh sangat jauh berbeda dengan caramu.
Aku iri padamu. Aku iri dengan caramu yang tiap saat selalu menyelipkan namaku disetiap sujud ibadahmu. Katamu, kamu selalu saja merasa kecanduan pada saat berngobrol dengan Tuhan dan ada namaku yang selalu kamu perkenalkan. Harapanmu sederhana; "Semoga aku bisa hidup tumbuh menua bersamamu".
Sementara aku, yang kulakukan ialah hanya memohon dalam doa tentang dia yang sama sekali tak pernah mendoakanku.
Dan kita berdua ini sama-sama lucu. Kamu berusaha memperjuangkanku dan aku yang susah payah mempertahankan dia yang tidak memperjuangkanku. Lalu katamu,aku ini bisa mencintaimu dengan sebenarnya hanya saja aku memerlukan waktu untuk bisa benar-benar melepaskannya. Dan kamu bersedia menungguku (lagi) tanpa memaksaku.
Aku juga iri padamu. Aku iri dengan caramu menceritakan segala kebaikanku kepada mereka (siapa saja) yang selalu menanyakan hubungan kita, menanyakan bagaimana aku padamu. Kamu selalu saja bercerita dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan sesekali mengusap dadamu,aku tahu dibagian ini hatimu sedang teramat perih. Tapi sialnya kamu terus saja bercerita kebaikanku,cintaku dan segalanya tentangku. Karena bagimu mencintaiku ialah;
"Dengan tidak mengandaikan semua hal yang baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan atas segala keburukan yang ada pada diriku."
Dan aku juga iri sekali padamu. Aku iri dengan segala apa saja yang kamu lakukan untukku. Tentang waktumu yang terbuang percuma,tentang cintamu yang diabaikan begitu saja,tentang pengorbananmu yang selalu saja sia-sia dimataku. Entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini memperjuangkanku. Aku juga kebigungan soal sampai juga aku akan terperangkap dengan perasaan yang sebodoh ini padanya. Tapi jika aku masih seperti ini lalu kamu merasa lelah itu datang apa kamu akan tetap seperti ini ? Ahh..ini moment yang akan menyakitiku (mungkin) nanti. Tapi sudah aku hanya sedang merasa iri dengan caramu memperlakukanku sekarang.
Aku iri...
Aku iri padamu. Aku iri dengan caramu yang tiap saat selalu menyelipkan namaku disetiap sujud ibadahmu. Katamu, kamu selalu saja merasa kecanduan pada saat berngobrol dengan Tuhan dan ada namaku yang selalu kamu perkenalkan. Harapanmu sederhana; "Semoga aku bisa hidup tumbuh menua bersamamu".
Sementara aku, yang kulakukan ialah hanya memohon dalam doa tentang dia yang sama sekali tak pernah mendoakanku.
Dan kita berdua ini sama-sama lucu. Kamu berusaha memperjuangkanku dan aku yang susah payah mempertahankan dia yang tidak memperjuangkanku. Lalu katamu,aku ini bisa mencintaimu dengan sebenarnya hanya saja aku memerlukan waktu untuk bisa benar-benar melepaskannya. Dan kamu bersedia menungguku (lagi) tanpa memaksaku.
Aku juga iri padamu. Aku iri dengan caramu menceritakan segala kebaikanku kepada mereka (siapa saja) yang selalu menanyakan hubungan kita, menanyakan bagaimana aku padamu. Kamu selalu saja bercerita dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan sesekali mengusap dadamu,aku tahu dibagian ini hatimu sedang teramat perih. Tapi sialnya kamu terus saja bercerita kebaikanku,cintaku dan segalanya tentangku. Karena bagimu mencintaiku ialah;
"Dengan tidak mengandaikan semua hal yang baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan atas segala keburukan yang ada pada diriku."
Dan aku juga iri sekali padamu. Aku iri dengan segala apa saja yang kamu lakukan untukku. Tentang waktumu yang terbuang percuma,tentang cintamu yang diabaikan begitu saja,tentang pengorbananmu yang selalu saja sia-sia dimataku. Entah sampai kapan kamu akan terus seperti ini memperjuangkanku. Aku juga kebigungan soal sampai juga aku akan terperangkap dengan perasaan yang sebodoh ini padanya. Tapi jika aku masih seperti ini lalu kamu merasa lelah itu datang apa kamu akan tetap seperti ini ? Ahh..ini moment yang akan menyakitiku (mungkin) nanti. Tapi sudah aku hanya sedang merasa iri dengan caramu memperlakukanku sekarang.
Aku iri...
Sabtu, 11 Juli 2015
Menuju Cinta-Surga, Yang Sesungguhnya (KITA)
Nanti akan ada dimana waktu kita dipagi hari berjalan bersamaan. Pagimu disibukkan antara dapur dan kamar. Aku yang mulai bergegas menyiapkan diri untuk ke kantor.
Kamu juga akan sibuk merapikan kemeja dan dasiku lalu sebelum aku beranjak pergi keluar dari rumah kita, kamu akan menanyakan hal seperti dihari-hari sebelumnya; "Sebentar mau aku masakin apa ?"
Lalu aku seperti biasa hanya akan membalas dengan senyuman mengisyaratkan bahwa apa saja yang kamu masak,pasti juga aku makan.
Nanti akan ada waktu dimana kamu menungguku didepan pintu rumah kita. Kamu akan mengecek berulang-ulang kali handphonemu jika aku tak sempat membalas BBM atau SMS karena aku masih dijalan menuju rumah. Kamu menungguku dengan penuh khawatirmu. Lalu setelah aku sudah bisa tiba dengan selamat dihadapanmu,khawatirmu itu akan berganti dengan senyuman hangat dan tubuh yang memeluk erat tubuhku.
Kamu juga akan memberikan laporan baik padaku soal bagaimana perkembangan anak-anak kita ketika kamu seharian bersama mereka. Kamu akan mulai merincikan bahwa anak kita yang ini wataknya sepertimu dan yang satunya sepertiku atau yang lainnya lagi memiliki sifat separuh aku dan juga separuhnya kamu. Atau kamu juga akan memberitahuku bahwa kamu baru saja mengajari mereka mengaji atau menghafal ayat-ayat pendek dan hal baik lainnya. Lalu aku hanya akan tersenyum menatapmu sembari dalam hatiku tak henti-hentinya dzikir kupanjatkan karena Ia begitu baik mengirimkanku malaikat seperti dirimu.
Akan ada waktu dimana juga ketika malam sudah datang menghampiri hari kita, diujung Magrib dan Isya kedua sejadah kita akan bertemu disana. Aku menjadi imam satu-satunya untukmu,kita sama-sama saling berdoa juga sama-sama saling mengaminkannya demi doa yang bernama "Kita".
Lalu kamu juga akan memintaku untuk menemanimu membaca Al-Qur'an. Kamu akan memintaku untuk mengajarkanmu dengan penuh kesabaran karena katamu kamu belum begitu mahir dalam membaca Al-Qur'an. Dan kamu tahu apa yang lebih membahagiakan dalam hal ini ? Bukan soal kamu yang belum mahir atau belum mengerti dan aku yang mungkin dengan sombongnya akan berbangga diri karena lebih mahir darimu, tapi ini soal bagaimana bahagianya aku bisa menjadi satu-satunya Priamu yang menjadi tempatmu untuk mau untuk saling 'belajar' dengan sama-sama menghilangkan-mengalahkan gengsi juga egois kita berdua.
Dan jika waktu dan saat itu sudah tiba sayang, maukah kamu untuk melakukannya secara halal bersamaku ? Maukah kamu menjadi satu-satunya Wanita yang mengharumkan surga dunia dan akhiratku nanti ?
Kita tumbuh bahagia menua bersama. Menuju cinta yang sesungguhnya. Menuju surga bersama.
Kamu juga akan sibuk merapikan kemeja dan dasiku lalu sebelum aku beranjak pergi keluar dari rumah kita, kamu akan menanyakan hal seperti dihari-hari sebelumnya; "Sebentar mau aku masakin apa ?"
Lalu aku seperti biasa hanya akan membalas dengan senyuman mengisyaratkan bahwa apa saja yang kamu masak,pasti juga aku makan.
Nanti akan ada waktu dimana kamu menungguku didepan pintu rumah kita. Kamu akan mengecek berulang-ulang kali handphonemu jika aku tak sempat membalas BBM atau SMS karena aku masih dijalan menuju rumah. Kamu menungguku dengan penuh khawatirmu. Lalu setelah aku sudah bisa tiba dengan selamat dihadapanmu,khawatirmu itu akan berganti dengan senyuman hangat dan tubuh yang memeluk erat tubuhku.
Kamu juga akan memberikan laporan baik padaku soal bagaimana perkembangan anak-anak kita ketika kamu seharian bersama mereka. Kamu akan mulai merincikan bahwa anak kita yang ini wataknya sepertimu dan yang satunya sepertiku atau yang lainnya lagi memiliki sifat separuh aku dan juga separuhnya kamu. Atau kamu juga akan memberitahuku bahwa kamu baru saja mengajari mereka mengaji atau menghafal ayat-ayat pendek dan hal baik lainnya. Lalu aku hanya akan tersenyum menatapmu sembari dalam hatiku tak henti-hentinya dzikir kupanjatkan karena Ia begitu baik mengirimkanku malaikat seperti dirimu.
Akan ada waktu dimana juga ketika malam sudah datang menghampiri hari kita, diujung Magrib dan Isya kedua sejadah kita akan bertemu disana. Aku menjadi imam satu-satunya untukmu,kita sama-sama saling berdoa juga sama-sama saling mengaminkannya demi doa yang bernama "Kita".
Lalu kamu juga akan memintaku untuk menemanimu membaca Al-Qur'an. Kamu akan memintaku untuk mengajarkanmu dengan penuh kesabaran karena katamu kamu belum begitu mahir dalam membaca Al-Qur'an. Dan kamu tahu apa yang lebih membahagiakan dalam hal ini ? Bukan soal kamu yang belum mahir atau belum mengerti dan aku yang mungkin dengan sombongnya akan berbangga diri karena lebih mahir darimu, tapi ini soal bagaimana bahagianya aku bisa menjadi satu-satunya Priamu yang menjadi tempatmu untuk mau untuk saling 'belajar' dengan sama-sama menghilangkan-mengalahkan gengsi juga egois kita berdua.
Dan jika waktu dan saat itu sudah tiba sayang, maukah kamu untuk melakukannya secara halal bersamaku ? Maukah kamu menjadi satu-satunya Wanita yang mengharumkan surga dunia dan akhiratku nanti ?
Kita tumbuh bahagia menua bersama. Menuju cinta yang sesungguhnya. Menuju surga bersama.
Minggu, 05 Juli 2015
#HinggaHariTua
Aku lupa melakukan hal-hal yng sering kamu minta yang sama seperti beberapa tahun yang lalu saat kita masih pacaran dulu. Kamu pun sering menanyakan, soal kemana keromantisanku yang dulu ? Yang sekarang nyatanya jauh lebih tawar menurutmu. Dulu pun saat kita masih pacaran aku selalu kecanduan menuliskanmu puisi,menyanyikan beberapa lagu romantis kesukaanmu (Seperti lagu dari David Archuleta-ForeverMore atau Guy Sebastian) dan kamu pada saat itu akan memelukku dengan hangatnya sambil menampakkan senyum cantikmu itu. Cantik. Itu gambaran beberapa tahun yang lalu sebelum kita sama-sama memutuskan untuk menikah lalu dikarunai dua orang putri yang cantiknya sama sepertimu.
Dihari ulang tahunmu pun aku selalu saja telat mengucapkan selamat padamu. Padahal kamu sendiri jika hari lahirku tiba kamu orang pertama yang selalu membangunkanku di pukul dua belas malam dan mengajakku untuk berdoa bersama.
Aku juga lupa kapan terakhir aku membelikanmu hadiah. Seingatku setahun yang lalu,hmm.. bukan dua tahun yang lalu. Padahal kalau dingat-ingat kembali minggu lalu kamu baru saja membelikanku parfum, katamu bukan hadiah apa-apa hanya ingin menghadiahkanku sesuatu saja sebagai bentuk terima kasih soal kebersamaan kita berdua selama ini.
Dan kamu tahu,nyerinya mulai berasa ketika kamu tidak pernah mempermasalahkan waktuku yang selalu habis dengan setumpuk pekerjaan dikantor. Sakitnya mulai terasa ketika sadar betul bahwa aku sudah jarang untuk memanjakanmu sebagai satu-satunya wanita yang selama ini setia bersamaku,mengurusiku dan hal-hal kecil penting lainnya.
Bahkan pada saat seperti ini pun kamu masih saja bisa berkata "Terima kasih". Aku saja lupa kapan terakhir kita keluar bersama sekedar untuk makan malam sederhana,nonton bioskop ataupun kemana saja,berdua. Yang aku tahu kamu setiap harinya menyiapkan segala keperluanku,mengurusi anak-anak, dan sehari penuhmu hanya dihabiskan untuk mengurusi apa saja yang ada dirumah. Jika dihitung-hitung mungkin masih lebih padat kegiatanmu daripada kegiatanmu tapi hebatnya kamu selalu saja bisa membagikan setiap waktumu agar tidak ada yang berbeda ataupun tawar seperti keromantisan kita yang hilang beberapa tahun terakhir ini.
Kamu,maafkan aku.
Maafkan karena belum bisa menjadi satu-satunya Lelakimu yang bisa membahagiakanmu dengan cara yang sempurna.
Maafkan aku yang ketika terlalu betah berlama-lama didepan laptop dan tumpukan berkas hanya untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kita bersama.
Maafkan aku yang mulai lupa dan menghilangkan kebiasaan kita dibeberapa tahun lalu.
Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang untuk setiap harinya memelukmu dari belakang sekedar mengatakan ucapan terima kasih untuk hari-hari kita ini.
Tentang nyanyian yang tak lagi kunyanyikan untukmu. Tentang Puisi yang tak lagi kurangkaikan kata disana dan tentang hal-hal lainnya yang sempat aku abaikan, maafkan aku. Cinta bukan ungkapan kan ? Tapi perjalanan keseharian. Kau puisiku. Apa yang lebih romantis dari itu ?
Hanya ingin kita tetap tumbuh menua bersama demi masa yang bernama; "Hingga Hari Tua" Selalu.
Dihari ulang tahunmu pun aku selalu saja telat mengucapkan selamat padamu. Padahal kamu sendiri jika hari lahirku tiba kamu orang pertama yang selalu membangunkanku di pukul dua belas malam dan mengajakku untuk berdoa bersama.
Aku juga lupa kapan terakhir aku membelikanmu hadiah. Seingatku setahun yang lalu,hmm.. bukan dua tahun yang lalu. Padahal kalau dingat-ingat kembali minggu lalu kamu baru saja membelikanku parfum, katamu bukan hadiah apa-apa hanya ingin menghadiahkanku sesuatu saja sebagai bentuk terima kasih soal kebersamaan kita berdua selama ini.
Dan kamu tahu,nyerinya mulai berasa ketika kamu tidak pernah mempermasalahkan waktuku yang selalu habis dengan setumpuk pekerjaan dikantor. Sakitnya mulai terasa ketika sadar betul bahwa aku sudah jarang untuk memanjakanmu sebagai satu-satunya wanita yang selama ini setia bersamaku,mengurusiku dan hal-hal kecil penting lainnya.
Bahkan pada saat seperti ini pun kamu masih saja bisa berkata "Terima kasih". Aku saja lupa kapan terakhir kita keluar bersama sekedar untuk makan malam sederhana,nonton bioskop ataupun kemana saja,berdua. Yang aku tahu kamu setiap harinya menyiapkan segala keperluanku,mengurusi anak-anak, dan sehari penuhmu hanya dihabiskan untuk mengurusi apa saja yang ada dirumah. Jika dihitung-hitung mungkin masih lebih padat kegiatanmu daripada kegiatanmu tapi hebatnya kamu selalu saja bisa membagikan setiap waktumu agar tidak ada yang berbeda ataupun tawar seperti keromantisan kita yang hilang beberapa tahun terakhir ini.
Kamu,maafkan aku.
Maafkan karena belum bisa menjadi satu-satunya Lelakimu yang bisa membahagiakanmu dengan cara yang sempurna.
Maafkan aku yang ketika terlalu betah berlama-lama didepan laptop dan tumpukan berkas hanya untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kita bersama.
Maafkan aku yang mulai lupa dan menghilangkan kebiasaan kita dibeberapa tahun lalu.
Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang untuk setiap harinya memelukmu dari belakang sekedar mengatakan ucapan terima kasih untuk hari-hari kita ini.
Tentang nyanyian yang tak lagi kunyanyikan untukmu. Tentang Puisi yang tak lagi kurangkaikan kata disana dan tentang hal-hal lainnya yang sempat aku abaikan, maafkan aku. Cinta bukan ungkapan kan ? Tapi perjalanan keseharian. Kau puisiku. Apa yang lebih romantis dari itu ?
Hanya ingin kita tetap tumbuh menua bersama demi masa yang bernama; "Hingga Hari Tua" Selalu.
Minggu, 03 Mei 2015
Aku mencintaimu, untuk setiap harinya.
I'm thinkin' about how people fall in love in mysterious ways
Mungkin mereka punya cara tersendiri untuk melakukannya. Lalu bagaimana denganku,denganmu dan dengan kita ? Apa kamu punya cara tersendiri untuk jatuh cinta padaku ?
Kalau-kalau nanti kedua matamu tidak bisa melihat lagi dengan sempurna dan nanti aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku seperti kemarin, apa kamu masih sanggup untuk terus menampakan senyummu itu lewat pipimu ?
Tapi ketahuilah ini, Me I will fall in love with you every single day i just wanna tell you I am. Hingga mungkin usia kita sampai delapan puluh tahun pun aku kan tetap berusaha kerasnya jatuh hati padamu seperti orang yang berusia dua puluh tahun.
Jadi bisakah untuk kita tetap melakukan ini ? Untuk tetap selalu menjadi yang terbaik meski aku pun tahu diantara kita tidak ada yang sempurna. Tapi setidaknya kita mampu untuk tetap lakukan yang terbaik untuk kita.
Aku mencintaimu, untuk setiap harinya. Dan sudah dipastikan ini takan pernah menua karena aku mencintaimu untuk setiap harinya. Ya, sesederhana itu. Selalu.
Mungkin mereka punya cara tersendiri untuk melakukannya. Lalu bagaimana denganku,denganmu dan dengan kita ? Apa kamu punya cara tersendiri untuk jatuh cinta padaku ?
Kalau-kalau nanti kedua matamu tidak bisa melihat lagi dengan sempurna dan nanti aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta padaku seperti kemarin, apa kamu masih sanggup untuk terus menampakan senyummu itu lewat pipimu ?
Tapi ketahuilah ini, Me I will fall in love with you every single day i just wanna tell you I am. Hingga mungkin usia kita sampai delapan puluh tahun pun aku kan tetap berusaha kerasnya jatuh hati padamu seperti orang yang berusia dua puluh tahun.
Jadi bisakah untuk kita tetap melakukan ini ? Untuk tetap selalu menjadi yang terbaik meski aku pun tahu diantara kita tidak ada yang sempurna. Tapi setidaknya kita mampu untuk tetap lakukan yang terbaik untuk kita.
Aku mencintaimu, untuk setiap harinya. Dan sudah dipastikan ini takan pernah menua karena aku mencintaimu untuk setiap harinya. Ya, sesederhana itu. Selalu.
Sabtu, 02 Mei 2015
Tak Harus Hari Ini..
Aku pernah mati-matian merindukanmu sebelum akhirnya sadar bahwa tak perlu harus bertemu denganmu hari itu juga untuk melepaskan segalanya atas dasar "Rindu".
Aku pernah mengagumimu sekuat yang kubisa sampai hari ini pun terus terasa efeknya. Lalu aku memahaminya kenapa Tuhan menciptakan malaikat untuk hidup di dunia. Sebut saja kamu ciptaan terbaikNya.
Aku juga terpesona, itulah yang kulakukan selama ini untukmu. Ternyata malaikat juga hidup didunia. Hahaha.. kamu pasti bisa memberikanku penghargaan sebagia Pria satu-satunya yang memujimu diluar batas. Tapi sudahlah, ini kalimat yang tepat yang harus kukatakan padamu dan sebagai bonusnya kamu cukup mendengarkannya saja.
Dan soal dengupan jantungku yang terus saja melaju jika mendengar suaramu saja, dan saat itu aku rindu ya aku rindu. Tapi tak harus hari ini bukan ?
Jika kata mereka bahagia itu harus kesuatu tempat yang terindah didunia, berbelanja dengan discount yang tinggi dan bisa melakukan segala sesuatu dengan sesuka hati. Maka aku tak sependapat dengan mereka. Karena bagiku cukup mencintaimu saja seperti ini, merindukanmu saja seperti ini dan segalanya terasa begitu sangat membahagiakan. Selalu.
Aku percaya ini cinta dan alamatnya memang tertuju padamu. Jadi tenanglah, aku bisa menunggumu. Aku bisa memeluk rinduku sendiri ketika segala tentangmu mulai nampak di memoriku. Aku menunggumu. Bukan untuk alasan hari ini saja karena cinta tak perlu tergesa-gesa kan ? Jadi aku menunggumu. Untuk waktu yang panjang bahwa pada akhirnya rindu kita akan terbalas dengan hal ini, "Kita akan tetap bersama dalam jangka waktu yang panjang. Dan tak perlu harus hari ini. Ada esok dan esoknya lagi. Selalu"
Aku pernah mengagumimu sekuat yang kubisa sampai hari ini pun terus terasa efeknya. Lalu aku memahaminya kenapa Tuhan menciptakan malaikat untuk hidup di dunia. Sebut saja kamu ciptaan terbaikNya.
Aku juga terpesona, itulah yang kulakukan selama ini untukmu. Ternyata malaikat juga hidup didunia. Hahaha.. kamu pasti bisa memberikanku penghargaan sebagia Pria satu-satunya yang memujimu diluar batas. Tapi sudahlah, ini kalimat yang tepat yang harus kukatakan padamu dan sebagai bonusnya kamu cukup mendengarkannya saja.
Dan soal dengupan jantungku yang terus saja melaju jika mendengar suaramu saja, dan saat itu aku rindu ya aku rindu. Tapi tak harus hari ini bukan ?
Jika kata mereka bahagia itu harus kesuatu tempat yang terindah didunia, berbelanja dengan discount yang tinggi dan bisa melakukan segala sesuatu dengan sesuka hati. Maka aku tak sependapat dengan mereka. Karena bagiku cukup mencintaimu saja seperti ini, merindukanmu saja seperti ini dan segalanya terasa begitu sangat membahagiakan. Selalu.
Aku percaya ini cinta dan alamatnya memang tertuju padamu. Jadi tenanglah, aku bisa menunggumu. Aku bisa memeluk rinduku sendiri ketika segala tentangmu mulai nampak di memoriku. Aku menunggumu. Bukan untuk alasan hari ini saja karena cinta tak perlu tergesa-gesa kan ? Jadi aku menunggumu. Untuk waktu yang panjang bahwa pada akhirnya rindu kita akan terbalas dengan hal ini, "Kita akan tetap bersama dalam jangka waktu yang panjang. Dan tak perlu harus hari ini. Ada esok dan esoknya lagi. Selalu"
Jumat, 13 Maret 2015
Melepaskanmu, Se-bahagia Mungkin.
Ini aku sedang menulis tentangmu, di 14 hari sebelum pernikahanmu berlangsung. Isi paragraf pertamanya pun masih berisi soal kita dulu, dibeberapa bulan yang lalu sebelum aku menerima kabar bahwa kamu akan segera melangsungkan pernikahan bersama seorang Wanita yang katanya dijodohkan oleh kedua orang tua kalian.
Aku ingat bagaimana kita dulu, bagaimana bahagianya kita yang saling semangatnya mengumpulkan janji dan harapan bahwa akan tetap bersama apapun situasinya. Jelas saat itu aku begitu yakin terhadap ucapanmu, sebab waktu 7 tahun untuk saling mengenal itu bukan waktu yang singkat bukan untuk dihitung dengan sepuluh jari kita? Jadi pada saat itu aku percaya-percaya saja bahwa semuanya pasti kan baik-baik saja. Dulu juga kamu begitu sangat yakin bahwa hubungan kita ini kuat, bahkan salah satu dari kita untuk saling minta pisah pun pasti tak ada yang berani. Itu kalian penegasan dulumu bukan ? Bahkan disaat hatiku sehancur sekarang, di 14 hari sebelum pernikahanmu berlangsung aku masih saja suka membodohi diriku sendiri bahwa kalimat "Kamu akan segera menikah" hanyalah omong kosong belaka.
Lalu aku menulis tentangmu lagi sekarang, kali ini tepat pada 10 hari sebelum pernikahanmu berlangsung. Dan tahu apa yang hatiku dengar saat kamu membujukku ? Menyuruhku untuk jangan bergegas pergi dan tetap menemanimu meskipun hari itu datang dan kamu sah menjadi miliknya, baik secara hukum juga agama. Dan rasanya seperti ada satu pukulan keras yang menancap dalam dadaku. Rasanya nyeri, sungguh. Mana ada Wanita normal yang mau untuk tetap menunggu disaat yang bersamaan kamu seatap bersamanya. Jika cinta yang sebenarnya terjadi diantara kalian dalam kurun waktu aku menunggumu dan nanti kamu tidak bisa meninggalkannya, aku harus bagaimana?
Aku menolak permintaanmu dengan alasan bahwa aku masih menyayangi hatiku. Kamu menghormati keputasaku, meminta maaf tapi rasanya nyerinya-sakitnya makin bertambah disetiap ucap maafmu. Katamu juga aku haruslah tenang dan sabar dalam menghadapi ini. Lalu dengan sesaat kalimat magicmu yang selalu kamu katakan dulu padamu bahwa Semua akan baik-baik saja, kemana ?
Kali ini sedikit tenang, walau kadang sedikit-sedikit nyeri hatiku sering berasa ketika melihat dia calon istrimu mulai mengupload foto-foto pre-wedding kalian di akun path miliknya di 7 hari sebelum pernikahan kalian berlangsung. Tapi sudahlah, mungkin ini namanya proses untuk melepaskanmu bukan ? Aku juga seharusnya tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Karena jika pada hari itu aku sedikit saja meredahka egoku untuk jangan bergegas pergi, juga kamu yang mau untuk sedikit sabar menahanku pasti yang ada sekarang aku tidak akan menulis tentangmu sesedih ini.
Dan mereka menyemangatiku. Katanya untuk harus melepaskan seseorang yang kita cintai bukanlah sesuatu yang haram. Malah yang membuat penyakit hati itu ketika kita terus menggenggam sesuatu yang bukan untuk kita. Dan sekarang di 3 hari sebelum perikahanmu berlangsung, aku sedikit merasakan perubahan ketenangan yang lebih baik dihatiku. Bukan soal cintaku padamu yang hilang dalam hitungan hari, bukan. Tapi soal egoku yang mulai surut untuk melepaskanmu dengan perasaan yang bahagia.
Pada moment ini, aku terlalu naif menyalahkanmu sampai-sampai aku tidak melihat lagi banyak sisi baik yang sudah kamu lakukan dulu saat kita bersama. Dan mungkin pada moment itu juga harapanku saja yang terlalu banyak, hingga akhirnya hatiku saja yang sulit menampungnya. Jadi kalau aku terluka, ini juga bukan salahmu sepenuhnya.
Dan sekarang puncak dari segala keikhlasan dan kesabaranku di uji. Hari ini Tepat di minggu kedua bulan maret, pukul setengah sepuluh pagi kamu kan melangsungkan pernikahan bersama dia sosok Wanita yang kusebut "beruntung" yang dipilih Sang Illahi untuk menemanimu melanjutkan kebahagiaanmu yang baru disepanjang hidupmu.Pandanglah dia sebagai sosok malaikat terbaikmu yang akan nanti selalu menghangatkanmu disaat suka juga duka datang menghampirimu.
Aku melepaskanmu sekarang. Sebab bahagia itu harus datang dari dua arah yang sama bukan hanya searah saja. Dan Ikhlas itu bukan saja hanya pada saat kita merelakan hal-hal yang kurang kita suka, tapi ikhlas itu pada saat kita bisa tenang memberikan sesuatu yang paling kita cintai,yang paling kita jaga disaat Tuhan berkata "Itu bukan untukmu. Lepaskanlah". Dan itu yang kulakukan padamu sekarang.
Jadi kamu berbahagialah yang lebih baik dan panjang lagi. Aku melepaskanmu dengan perasaan yang damai dan rasanya sungguh membahagiakan. Sebab yang terpenting sekarang bukan lukanya yang harus dijaga bukan ? Tapi hati. Ia hatiku. Hatimu juga.
Berbahagialah....
____________
“Keseluruhan dari cinta itu tidak harus memiliki. Terkadang harus merelakan. Demi orang itu dan merelakannya, juga adalah sebuah bentuk dari cinta.”
Aku ingat bagaimana kita dulu, bagaimana bahagianya kita yang saling semangatnya mengumpulkan janji dan harapan bahwa akan tetap bersama apapun situasinya. Jelas saat itu aku begitu yakin terhadap ucapanmu, sebab waktu 7 tahun untuk saling mengenal itu bukan waktu yang singkat bukan untuk dihitung dengan sepuluh jari kita? Jadi pada saat itu aku percaya-percaya saja bahwa semuanya pasti kan baik-baik saja. Dulu juga kamu begitu sangat yakin bahwa hubungan kita ini kuat, bahkan salah satu dari kita untuk saling minta pisah pun pasti tak ada yang berani. Itu kalian penegasan dulumu bukan ? Bahkan disaat hatiku sehancur sekarang, di 14 hari sebelum pernikahanmu berlangsung aku masih saja suka membodohi diriku sendiri bahwa kalimat "Kamu akan segera menikah" hanyalah omong kosong belaka.
Lalu aku menulis tentangmu lagi sekarang, kali ini tepat pada 10 hari sebelum pernikahanmu berlangsung. Dan tahu apa yang hatiku dengar saat kamu membujukku ? Menyuruhku untuk jangan bergegas pergi dan tetap menemanimu meskipun hari itu datang dan kamu sah menjadi miliknya, baik secara hukum juga agama. Dan rasanya seperti ada satu pukulan keras yang menancap dalam dadaku. Rasanya nyeri, sungguh. Mana ada Wanita normal yang mau untuk tetap menunggu disaat yang bersamaan kamu seatap bersamanya. Jika cinta yang sebenarnya terjadi diantara kalian dalam kurun waktu aku menunggumu dan nanti kamu tidak bisa meninggalkannya, aku harus bagaimana?
Aku menolak permintaanmu dengan alasan bahwa aku masih menyayangi hatiku. Kamu menghormati keputasaku, meminta maaf tapi rasanya nyerinya-sakitnya makin bertambah disetiap ucap maafmu. Katamu juga aku haruslah tenang dan sabar dalam menghadapi ini. Lalu dengan sesaat kalimat magicmu yang selalu kamu katakan dulu padamu bahwa Semua akan baik-baik saja, kemana ?
Kali ini sedikit tenang, walau kadang sedikit-sedikit nyeri hatiku sering berasa ketika melihat dia calon istrimu mulai mengupload foto-foto pre-wedding kalian di akun path miliknya di 7 hari sebelum pernikahan kalian berlangsung. Tapi sudahlah, mungkin ini namanya proses untuk melepaskanmu bukan ? Aku juga seharusnya tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Karena jika pada hari itu aku sedikit saja meredahka egoku untuk jangan bergegas pergi, juga kamu yang mau untuk sedikit sabar menahanku pasti yang ada sekarang aku tidak akan menulis tentangmu sesedih ini.
Dan mereka menyemangatiku. Katanya untuk harus melepaskan seseorang yang kita cintai bukanlah sesuatu yang haram. Malah yang membuat penyakit hati itu ketika kita terus menggenggam sesuatu yang bukan untuk kita. Dan sekarang di 3 hari sebelum perikahanmu berlangsung, aku sedikit merasakan perubahan ketenangan yang lebih baik dihatiku. Bukan soal cintaku padamu yang hilang dalam hitungan hari, bukan. Tapi soal egoku yang mulai surut untuk melepaskanmu dengan perasaan yang bahagia.
Pada moment ini, aku terlalu naif menyalahkanmu sampai-sampai aku tidak melihat lagi banyak sisi baik yang sudah kamu lakukan dulu saat kita bersama. Dan mungkin pada moment itu juga harapanku saja yang terlalu banyak, hingga akhirnya hatiku saja yang sulit menampungnya. Jadi kalau aku terluka, ini juga bukan salahmu sepenuhnya.
Dan sekarang puncak dari segala keikhlasan dan kesabaranku di uji. Hari ini Tepat di minggu kedua bulan maret, pukul setengah sepuluh pagi kamu kan melangsungkan pernikahan bersama dia sosok Wanita yang kusebut "beruntung" yang dipilih Sang Illahi untuk menemanimu melanjutkan kebahagiaanmu yang baru disepanjang hidupmu.Pandanglah dia sebagai sosok malaikat terbaikmu yang akan nanti selalu menghangatkanmu disaat suka juga duka datang menghampirimu.
Aku melepaskanmu sekarang. Sebab bahagia itu harus datang dari dua arah yang sama bukan hanya searah saja. Dan Ikhlas itu bukan saja hanya pada saat kita merelakan hal-hal yang kurang kita suka, tapi ikhlas itu pada saat kita bisa tenang memberikan sesuatu yang paling kita cintai,yang paling kita jaga disaat Tuhan berkata "Itu bukan untukmu. Lepaskanlah". Dan itu yang kulakukan padamu sekarang.
Jadi kamu berbahagialah yang lebih baik dan panjang lagi. Aku melepaskanmu dengan perasaan yang damai dan rasanya sungguh membahagiakan. Sebab yang terpenting sekarang bukan lukanya yang harus dijaga bukan ? Tapi hati. Ia hatiku. Hatimu juga.
Berbahagialah....
____________
“Keseluruhan dari cinta itu tidak harus memiliki. Terkadang harus merelakan. Demi orang itu dan merelakannya, juga adalah sebuah bentuk dari cinta.”
Sabtu, 15 November 2014
Key.. (Aku suka caramu mencintainya)
Key..
Aku jatuh hati padamu. Bukan baru terjadi dihari ini, tapi
sudah lama Key. Sudah terlalu lama sampai-sampai aku sendiri lupa bagaimana
caranya untuk menghentikan atau sekedar menghapus rasa ini. Aku juga kesulitan
untuk sekedar berkata padamu soal “Key..
aku mencintaimu” dan bla,bla,bla…
Aku kesulitan karena memang setahuku juga kamu sama sekali
tak’an merespon apa yang kan ku katakan nanti karena sudah ada dia kan ?
Dan, soal dia Key..
Aku suka caramu mencintainya. Aku suka tiap kali kamu
menceritakan soal dirinya padaku dengan ekspresi wajahmu yang selalu bahagia. Aku
suka tiap detail yang kamu ceritakan, tentang dia yang begitu
mencintamu,memperhatikanmu dan takut jika sejam saja kamu tak mengabarinya. (Hmm.. Key, jika dia sejam saja sudah begitu ketakutan, aku sendiri tak
mampu membayangkan berapa banyak rasa takutku jika nanti kita tak’an saling
memberikan kabar lagi).
Aku juga suka Key
dengan caramu mencintainya. Rasa-rasanya juga kamu sangat begitu mencintainya.
Aku suka ketika kamu sering memposting beberapa status di bbm hanya sekedar untuk
berkata, “Sayang..semangat kerjanya ya. Sayang aku mencintaimu Sayang cepat sembuh ya..” dan bla,bla,bla....
Aku suka ketika kamu sering saja
meng-upload beberapa foto kalian berdua di akun path or instagram milikmu. Kadang
beberapa pose kalian diambil saat kalian nonton bioskop bersama,kepantai,makan
di emperan jalan dan dimanapun itu aku menyukainya.
Aku suka Key dengan caramu mencintainya. Aku suka ketika
kamu begitu khawatirnya saat dirinya sakit flu biasa saja dan kamu sibuk
membuatkan bubur encer untuknya. Ketika kamu yang dengan sabar menunggu
jemputannya untuk pulang bersama karena arah rumah kalian searah. Ketika kamu
dengan seriusnya ingin belajar membuat kue kesukaannya. Ketika kamu menangis
karena terlalu merindukannya. Aku suka Key, sungguh. Aku suka dengan setiap caramu
mencintainya.
Dan Key, yang tidak ku suka dari semua yang ada ialah kenapa bukan aku saja dan harus dirinya Key
? kenapa ?
Dan kamu tahu Key, hal apa yang paling membosankan dari
kehidupanku Key ? ialah ketika aku begitu tergila-gilanya dengan caramu
mencintainya dan aku sendiri tak bisa merasakannya.
Tapi tenanglah.. ini bukan kesalahanmu Key. Ini salahku saja
yang tak bisa mengimbangi rasa dengan seimbang.
Hmmm.. Key,key....
Kamis, 13 November 2014
Kamu...
Sayang Kamu Dimana, Ada Beking Apa?
Untukmu sayang....................
Aku sering melakukannya. Berbicara sesederhana-seserius mungkin di hadapanNya hanya untuk menanyakan soal kejelasan keberadaanmu sekarang dimana.
Kadang Ia menjawab segala pertanyaanku dengan beberapa candaan. Seperti, membawah hatiku kearah yang mereka sebut 'jatuh cinta' namun pada akhirnya hatiku juga dipatahkan.
Kadang pula Ia membuatku mati-matian mempertahankan yang ada hingga pada akhinya terlepas juga, meski pada saat itu pertahananku sudah begitu kuat (Menurutku).
Jadi kamu, bisa tidak untuk sedikit memberikan signal soal bagaimana caranya aku bisa menemukanmu ? karena kataNya untuk menemukanmu aku harus jauh lebih bisa bersabar. Aku juga harus lebih bisa mempersiapkan diri untuk benar-benar Ia paham bahwa aku sudah terlalu sangat merindukanmu.
Jadi untuk waktu yang masih panjang ini, untuk saat 'pertemuan' kita yang ntah kapan, bisakah kita sama-sama melakukan ini ? Saling membentuk pribadi yang lebih baik lagi agar nanti saat dipertemukan kita bisa jauh lebih siap dari sebelumnya. Kita harus dari sekarang saling menguatkan hati karena kedepannya yang kita lalui bukan jalan yang diaspal saja kan? tapi banyak kerikilnya. Kita harus benar-benar siap untuk saling bertoleransi soal lebih dan kurangnya kita berdua. Aku mempersiapkan diriku untukmu, kamu juga mempersiapkan diri untukku. Dan yang paling terpenting ialah kita yang mau untuk setiap saat saling mencintai dan lebih bersahabat lagi dalam tumbuh menua bersama.
Hingga pada akhirnya ketika hati kita sudah sama-sama siap, kamu juga aku dipertemukan dari kata 'kebetulan' lalu membuat kita saling jatuh cinta. Dan sepertinya itu membahagiakan. Aku bisa menatap wajahmu jauh lebih lama dibandingakan diwaktu kemarin saat aku menebak-nebak soal siapa kamu dan keberadaanmu.
Dan jika pada akhirnya akan sebahagia itu, tak mengapa. Aku akan menunggumu saja.
Untukmu sayang....................
Aku sering melakukannya. Berbicara sesederhana-seserius mungkin di hadapanNya hanya untuk menanyakan soal kejelasan keberadaanmu sekarang dimana.
Kadang Ia menjawab segala pertanyaanku dengan beberapa candaan. Seperti, membawah hatiku kearah yang mereka sebut 'jatuh cinta' namun pada akhirnya hatiku juga dipatahkan.
Kadang pula Ia membuatku mati-matian mempertahankan yang ada hingga pada akhinya terlepas juga, meski pada saat itu pertahananku sudah begitu kuat (Menurutku).
Jadi kamu, bisa tidak untuk sedikit memberikan signal soal bagaimana caranya aku bisa menemukanmu ? karena kataNya untuk menemukanmu aku harus jauh lebih bisa bersabar. Aku juga harus lebih bisa mempersiapkan diri untuk benar-benar Ia paham bahwa aku sudah terlalu sangat merindukanmu.
Jadi untuk waktu yang masih panjang ini, untuk saat 'pertemuan' kita yang ntah kapan, bisakah kita sama-sama melakukan ini ? Saling membentuk pribadi yang lebih baik lagi agar nanti saat dipertemukan kita bisa jauh lebih siap dari sebelumnya. Kita harus dari sekarang saling menguatkan hati karena kedepannya yang kita lalui bukan jalan yang diaspal saja kan? tapi banyak kerikilnya. Kita harus benar-benar siap untuk saling bertoleransi soal lebih dan kurangnya kita berdua. Aku mempersiapkan diriku untukmu, kamu juga mempersiapkan diri untukku. Dan yang paling terpenting ialah kita yang mau untuk setiap saat saling mencintai dan lebih bersahabat lagi dalam tumbuh menua bersama.
Hingga pada akhirnya ketika hati kita sudah sama-sama siap, kamu juga aku dipertemukan dari kata 'kebetulan' lalu membuat kita saling jatuh cinta. Dan sepertinya itu membahagiakan. Aku bisa menatap wajahmu jauh lebih lama dibandingakan diwaktu kemarin saat aku menebak-nebak soal siapa kamu dan keberadaanmu.
Dan jika pada akhirnya akan sebahagia itu, tak mengapa. Aku akan menunggumu saja.
Kamis, 30 Oktober 2014
Jatuh Cinta Berkali-kali...
Ini tentang dirinya yang sudah cukup lama aku kencani
setelah pernikahanku di 33 tahun yang
lalu. Ya, kira-kira selama itu pula aku mengencaninya dengan status “Aku yang sudah menikah”. Semuanya berjalan
baik-baik saja, tidak ada komplain buruk sana dan sini ketika mereka tahu aku
mengencaninya selama ini. Bahkan situasi didalam rumah selalu baik-baik saja.
Dia cantik,pintar,keibuan,penuh cinta dan yang paling
terpenting selama 33 tahun ini ia mencintaiku dengan caranya tersendiri dan
itulah alasannya mengapa aku terus mempacarinya setelah aku menikah. Dan tunggu.
Dia bukan selingkuhanku tapi dia istriku.
Sejak saling berjanji untuk memutuskan hidup bersama dalam
suka dan duka, kita sama-sama sepakat untuk terus berkencan dan saling jatuh
cinta untuk setiap harinya seperti awal-awal kita berjumpa dan saling jatuh
cinta. Dan kau tahu, rasanya itu membahagiakan. Sungguh.
Aku sendiri lupa kapan terakhir aku memarahinya hanya karena
hal sepeleh soal dia yang terlalu kecapean menguras tenaganya untuk mengurusi
rumah dan anak-anak. Karena ketika suara kerasku mulai keluar dan senyumannya
mulai memudar melawan amarahku, aku bisa apa untuk diam dan luluh kembali ? Cantik. Menenangkan. Itu saja yang bisa
ku deskripsikan ketika dirinya mulai mengoda amarahku dengan senyumannya itu.
Sampai sekarang pun aku masih sering mengatakannya cantik. Saat
bangun tidur dan sebelum tidur pun aku tak pernah bosan mencium keningnya berkali-kali hanya untuk memastikan dirinya
tak kemana-mana lagi setelah aku sudah sedekat ini dengannya. Saat tubuh
sama-sama berbaring di atas ranjang yang sama dan kita saling menceritakan apa
yang terjadi seharian, saat aku di kantor dan dirinya yang sibuk mengurusi
anak-anak. Kadang ia mengusap-usap pipiku, mencium jidadku dan yang terjadi
setelah itu aku hanya seperti anak kecil yang tertidur senyenyak mungkin disampingnya.
Ia juga sering memberikanku kejutan yang unik. Kadang memasakanku
makananan yang enak dan membuatkanku kue jika aku sedang mengerjakan beberapa pekerjaan kantor dirumah. Ia senang sekali
mengatur penampilanku ketika aku ingin berangkat ke kantor, ke pesta ataupun
kemana saja aku pergi ia selalu saja menjadi desainer cerewet. Dan sekali lagi
apa saja yang ia lakukan untukku aku selalu saja menyukainya. Jatuh cinta berkali-kali.
Dan sebagai balasannya, aku senang sekali membawanya ke
pesta, ke acara kantor,jalan-jalan, dinner,nonton bioskop, ke pantai dan
kemanapun asal bersamanya aku selalu menyukainya. Karena cinta itu menginginkan
untuk tetap dekat dan cepat rindu kalau hanya pisah beberapa jam bukan ? dan itu
yang selalu aku rasakan di 33 tahun kebersamaan ini.
Dan sekarang, ketika memandang dirinya sedekat ini yang Nampak
beberapa garisan keriput dipelipis matanya. Rambutnya yang dulu hitam berkilau
sekarang berganti dengan beberapa helaian uban. Tangannya yang dulu halus
sekarang terasa kasar (dan ini salah satu
efek dimana selama bertahun-tahun ini ia memasak,mengurusi rumah,mencuci
pakaianku dan anak-anak). Tapi ketahuilah jauh dari semua yang ada, dia
masih terlihat cantik dimataku bahkan lebih cantik daripada pertama kali kita bertemu.
Dan sekarang setelah sudah menua seperti ini, ia masih mau
mencintaku meski lima gigiku sudah tanggal. Ia masih mau ikhlas mengurusiku
meski sekarang kita berdua hidup lewat gaji pensiunanku. Ia masih mau setia
bersamaku meski sekarang fisikku tak sekuat dulu. Dan sampai sekarang jika ada yang
bertanya mengapa kita masih saja terus bersama sampai selama ini, alasannya
sederhana saja. Karena sejak awal pernikahan kita pun sudah sama-sama sepakat
untuk selalu saling jatuh cinta
berkali-kali dan itu membahagiakan. Sungguh.
Kamis, 23 Oktober 2014
Kamu cukup dengarkan ini saja bahwa, kita akan bahagia. Sebahagia
mungkin semampu yang bisa kulakukan dan sebisa yang kamu pertahankan.
Ketika semuanya bagimu terasa amat begitu mustahil untuk
dilakukan sendiri, tenanglah masih ada aku. Disini. Yang jaraknya tak’an pernah
lepas jauh darimu.
Ketika kamu merasa beberapa mimpiku ini terkesan bodoh dan
berhalusinasi, ingatlah selalu bahwa ini salah satu dari sekian banyak caraku
untuk mempertahankanmu disini. Mempertahankan kita untuk bersama lebih lama
selama mungkin. Menjadikanmu satu-satunya Wanita yang menjadi "Rumah ternyamanku".
Ketika kamu berpikir aku akan melepaskan, jangan seperti
itu. Tetaplah percaya bahwa aku tidak akan pernah melangkah, selangkah lebih
jauh darimu. Kita akan tetap seperti ini, berjalan bersama beriringan hingga
kamu pun kan mengerti dengan sendirinya kenapa aku selalu menyebutmu, “Tujuanku”.
Jangan melemah. Aku akan tetap seperti ini. Menjadi sayap
pelindungmu. Menjadi yang sama seperti bagaimana pertama kali aku
mengejarmu,jatuh hati dan sampai batas dimana kita menua dan bahagia bersama.
Jadi, tutuplah telingamu ketika mereka diluar sana mengusik
hubungan ini. Cukup dengarkan hatimu, lalu kamu kan bisa percaya seberapa
kerasnya aku mempertahankan “Kita”. Ya, sesederhana itu.
Senin, 20 Oktober 2014
Seharusnya saat itu..
Seharusnya saat itu kamu jangan dulu bergegas pergi.
Setidaknya kamu mesti mendegarkanku berbicara lebih banyak lagi agar kamu
sendiri bisa paham mengapa aku sampai berjuang sejauh ini dalam hal
mempertahankanmu saja.
Seharusnya saat itu juga kamu sedikit saja menurunkan
egois dan amarahmu padaku. Setidaknya
saat itu kamu bisa jauh lebih tenang,jauh lebih sabar dan memberikanku waktu
sebentar saja untuk menjelaskannya lebih awal.
Tapi pada saat itu kamu seperti orang asing yang baru ku
kenal saja. Marah semarah mungkin tanpa sadar itu pantas atau tidak. Saat itu
juga kamu tampil seperti seorang pria yang sama sekali tak pantas ku banggakan
lagi.
Ya.. saat itu kamu berbeda. Memusuhiku hingga memintaku
untuk pergi jauh dari hidupmu.
Aku menuruti maumu bukan karena tak ingin mempertahankan
hubungan kita. Tapi ingat saja, jauh sebelum dari semua luka dan sakit hati
yang terjadi, aku sudah susah payah mempertahankanmu tapi kamu mau saja melepas
diri dan tak ingin untuk kembali pulang.
Hingga sekarang, aku sudah sebahagia ini bersama (ia) yang
lebih bisa memahamiku,menerima segala lebih-kekuranganku, mau ikhlas untuk
tumbuh bahagia bersamaku kamu malah datang dan memintaku untuk kembali pulang.
Dengan alasan masih mencintaiku ?
Terlambat !!!!
Ingat saja,jauh sebelum semua ini terjadi bukankah aku sudah
lebih dulu mengingatkanmu untuk menurunkan egois,sama-sama memperbaiki diri dan
mulai dari awal lagi ?
Tapi katamu saat itu, “sudah
tak ada harapan lagi untuk dipertahankan”
Jadi untuk saat ini pula tak ada salah juga hukuman bagiku
kan untuk aku sendiri berkata padamu, “Waktumu
sudah habis untuk pulang kembali. Ke sini. hatiku”
Langganan:
Postingan (Atom)