Kamis, 03 Januari 2013

Seseorang bersamamu..


Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang mampu membuat senyummu selalu ada, tapi bisa juga membuat senyummu itu hilang dengan beberapa alasan yang ada. Seseorang bersamamu, tapi hatiku malah tetap (ingin) bersamamu. Konyol bukan ? ahh.. tidak. Bukan. Ini hanya masalah kurangnya komunikasi saja yang kamu jelas tak pernah memberikanku kesempatan untuk menceritakan padamu, tentang apa yang terjadi dihatiku sekarang semenjak ada kamu.

Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang bisa  dikatakan ia sosok pria yang diberikan rezeki yang luar biasa oleh Sang Kuasa. Seseorang bersamamu, sekarang. Seseorang yang dikirimkan Tuhan untukmu agar kamu bisa mengerti apa itu mencintai (katamu). Seseorang yang bersamamu, yang sudah pasti bukan aku tapi dirinya.
Ia memilikimu sekarang. Memiliki hatimu kan ? lalu aku, apa yang kumiliki sekarang dengan terus seperti ini ?
Aku memiliki tawamu yang kapan saja ku mau bisa ku lihat. Dengan menceritakan beberapa cerita lucu saja untukmu, sudah pasti tawamu akan nyaring terdengar ditelingaku lalu akan akan berpura-pura memarahimu dan berkata “Kenapa tertawamu bisa seburuk itu ?”. kamu tidak memarahiku, hanya tertawa saja terus  hingga aku kesulitan menahan detakan jantungku yang terlalu bahagia melihat kamu bisa sebahagia ini (saat bersamaku).

Aku memiliki senyummu yang kapan saja aku mau bisa juga aku melihatnya. Dengan duduk manis, diam disampingmu. Mendengarkan kamu bercerita tentang hal ini dan itu, lalu selanjutnya memberikanku kado yang berbentuk ‘senyumanmu’. Jika sudah seperti ini, aku pasti akan berpura-pura lagi mencomotimu dengan berkata “jangan tersenyum sok unyu seperti itu. kamu bukan anak kecil yang pipinya kemerahan dan menggemaskan. Jadi biasa saja..”. kamu sama sekali tak tersinggung dengan perkataanku tapi kamu tahu, disini dalam hatiku ini rasa-rasanya sesak sekali. Sungguh.

Tapi jika sudah berrbicara tentang ‘dirinya’ aku sendiri yang sedekat ini denganmu, selalu tak merasa ini adalah kamu. Ya, mengapa tidak ? kamu selalu saja menceritakan hal apa saja yang menjadi kelebihannya. Kamu selalu saja bisa menggambarkan bagaimana baiknya ia memperlakukanmu, dan yang paling menyesakkan hatiku ialah pada saat kamu berkata bahwa suatu hari nanti dia juga yang akan menjadi akhir untuk kamu cintai.

Seseorang bersamamu, sekarang. Ia mencintaimu, tapi jika diadu siapa yang lebih besar perasaannya terhadapmu, apa masih bisa dia yang kamu percaya teramat sangat mencintaimu bisa menjadi pemenangnya ?  jika benar, syukurlah.. itu berarti aku harus lebih banyak lagi belajar dari dirinya agar bisa mendapatkanmu.

Tapi, jika kelak nanti kamu mencintaiku setelah dia tak mencintaimu lagi aku mana mau ? bukankah aku sudah terlalu lama memberikanmu isyarat bahwa cinta itu bukan hanya ada pada saat dirimu bisa sebahagia sekarang, tapi pada saat tersulitpun cinta harus tetap ada. (dan sama seperti yang biasanya ku lakukan untukmu. Bahagia atau tidak selalu saja, aku ada) !

Jumat, 28 Desember 2012

Nora..


Nora, itu namamu. Kita saling mengenal setahun yang lalu lewat jejaring sosial twitter. Awalnya hanya sekedar follow dan follow back biasa, saling mention mengajak berteman dan pada akhirnya kita sama-sama sepakat untuk melanjutkan hubungan pertemanan kita didunia nyata. Ya, kamu seorang wanita yang dewasa, lucu dan yang paling penting saat bertatap wajah langsung denganmu ialah saat bisa memandang langsung bagaimana ekspresi wajahmu saat sedang tersenyum seperti itu. Cantik juga manis pastinya.

Aku menyukaimu Nora. Ah, bukan hanya suka saja tapi aku sudah jatuh cinta padamu lebih dari kata sangat! Lalu mengapa sampai saat ini tidak menyatakannya langsung padamu? Hahaha.. menyatakan langsung katamu? Tidak! Aku belum bisa seberani itu berbicara hal berbau perasaan padamu. Aku belum berani untuk berlutut memohon dihadapanmu agar menerima cintaku. Aku juga belum berani mengusik hatimu dengan bercerita tentang perasaanku yang selama ini diam-diam kupendam dan itu rasanya amat sesak sekali. Ya, aku belum bisa mengatakan secara langsung padamu. Aku belum bisa seberani Pria lain diluar sana karena sialnya sekarang kamu sedang jatuh hati pada sosok Pria yang katamu sangat baik itu kan?

Pria itu katamu, sangat memperhatikanmu. Bahkan katamu ini yang pertama kalinya bagimu bertemu dengan Pria yang baiknya melebihi pria-pria yang sebelumnya kamu kenali. Berarti selama ini aku apa? Tidak, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya salah satu sahabatmu dan bukan termasuk dideretan pria-pria yang kamu sebutkan itu. aku hanya sahabatmu kan? Ya, seorang sahabat saja yang diam-diam menunda kebahagiaannya dengan terus berpura-pura dihadapanmu seperti sedang tak terjadi apa-apa, dengan hatiku. Tapi tak apa, selagi masih bisa diberikan kesempatan untuk selalu bisa dekat denganmu aku masih sanggup untuk tetap bertingkah tenang dihadapanmu. Seperti sekarang ini misalnya.

Pria itu juga katamu, sangat menyayangimu. Dia rela menemanimu seharian menghabiskan weekand, lalu menemanimu berbelanja, kesalon dan ketempat-tempat mahal yang kamu sukai. Iya, Pria itu punya segalanya jadi aku juga tak heran mengapa kamu bisa sebahagia ini saat bersamanya. Tapi ketika Senin hingga Jumat apa dia ada waktu untukmu ? apa dia mengangkat telephonemu saat kamu memerlukan bantuannya untuk menjemputmu dan menemanimu? Apa hari-hari seperti itu dia bisa menjadi sepertiku? Yang terus meluangkan waktu untukmu ? tidak kan? 

Tapi sudahlah.. itu tak perlu dibahas panjang lebar seperti ini. Aku juga masih menjaga perasaanmu, jadi tak apa aku masih sanggup menemanimu meski Priamu itu tak bisa menemanimu.

Kamis, 06 Desember 2012

Aku masih bisa mempercayaimu lagi


Kata mereka, tiga hari yang lalu mereka melihatmu. Berjalan bergandengan tangan bersama seorang Pria gagah yang sudah jelas itu bukan aku. Tentu pada saat itu aku tidak langsung mempercayai mereka, aku tetap membelahmu dengan menekan bahwa itu pasti bukan dirimu! Ya, saat itu yang kutahu kamu sedang pergi menemani Ibumu berbelanja jadi sungguh sangat tidak mungkin kan diwaktu yang bersamaan kamu bersama sosok yang lain ? aku mempercayaimu.

Seminggu kemudian kata mereka, kamu sedang masuk ke salah satu salon mahal disalah satu mall di Ibu Kota dengan ditemani seorang Pria yang usianya tak muda lagi. ahh.. aku jelas tak mempercayai hal itu. aku membelahmu lagi dengan berkata, bahwa itu mungkin keluargamu. Tapi kata mereka tidak seperti itu! Pria itu beberapa kali memelukmu, mengusap-usap rambutmu dan yang lebih mengejutkan lagi kata mereka ada kalimat “sayang” yang keluar dari bibirmu saat kamu menyapa Pria itu.
Kali ini aku tetap mempercayaimu, karena setahuku hari ini ada lembur dikantormu jadi mana mungkin kamu berada didua tempat dijam yang sama dengan dua hal yang berbeda? Aku berhasil melupakan perkataan mereka itu dan kembali mempercayaimu, lagi.

Sebulan kemudian aku berniat mengajakmu bertemu dengan keluarga besarku tapi pada saat itu kamu tak bisa menerima ajakanku karena dihari yang sama juga ada acara keluarga dirumah tantemu. Hm.. tak apa. Kali ini aku bisa memahamimu lagi dengan akhirnya membatalkan keinginan terbesarku untuk mempertemukanmu dengan keluargaku. Tak sampai disitu, sejam kemudian salah seorang sahabat terdekatku menelphoneku dan memberitahukanku hal yang sulit untuk dipercaya. Katanya, kamu sedang berada disalah satu cafe yang tempatnya tak jauh dari rumahmu. Disana juga kamu sedang tak bersama dengan keluargamu tapi lagi-lagi yang kedengar ini, kamu bersama dengan seorang Pria. Saling bergandengan tangan dan beberapa kali dia melihatmu berciuman dengan Pria asing itu.

Aku masih sanggup bersabar dan tetap tenang dengan segala berita-berita ini dan hanya karena untuk mempercayaimu saja aku sampai-sampai keterlaluan menyalahkan sahabatku itu dengan berkata padanya hal-hal yang seharusnya tak kukatakan.

Lagi aku mempercayaimu. Ini yang ketiga kalinya yang kudengar kamu bersama Pria lain tapi yang kulakukan sekarang hanya diam seperti ini saja. Untuk mengklarifikasi kabar ini padamu saja aku enggan untuk bertanya padamu. Alasannya, aku hanya tak ingin menyakiti hatimu jika berita itu tidak benar dan hanya gosip semata. Karena setiap melihatmu lagi serasa tak ada tanda diwajahmu yang menggambarkan kamu mengkhianatiku. Semuanya nampak baik-baik saja. Bahkan dalam sehari kamu masih bisa mengingatkanku untuk makan dan istirahat yang teratur. Kamu masih bisa mengangkat dengan cepat telephoneku dan tak pernah tidak membalas SMS ku. Jadi aku punya kekuatan apa untuk mecurigaimu ?

Sudahlah, aku memutuskan untuk tak pernah lagi ingin mendengar komentar ini dan itu, tentang bagaimana kamu dan apa saja yang kamu lakukan saat sedang tak bersamaku. Aku tetap mempercayaimu seperti sebelumnya bahkan sekarang aku semakin mempercayaimu jadi tenanglah aku masih tetap mempercayaimu. Sungguh.

Empat hari kemudian, aku melihatmu. Aku melihatmu bukan lagi dari kasat mata mereka, bukan! Tapi aku melihatmu dengan jelas, berdiri dihadapanku dengan ekspresi wajah yang bahagia tapi ekspresimu seperti bukan Wanita yang selama ini aku cintai. Wajahmu dilapisi make up yang tebal, bibirmu dipolesi lipstik merah, busana yang kamu kenakan juga tampak seperti ini bukan kamu yang ku kenal.
Seluruh tubuhku rasanya mulai mati rasa ketika yang kulihat keluar dari kamar 204 adalah kamu. Jantungku berdetak tak baik, kedua bola mataku mulai memanas, rasanya seperti air mataku ingin tumpah ketika melihatmu bersama Pria asing itu.

Ada apa denganmu sayang? Ada apa? Kamu terus menatapku tanpa sedikitpun bergerak untuk menjelaskan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Karena dipikiranmu sekarang aku sudah bisa paham apa yang terjadi tanpa perlu kamu menjelaskannya lagi.
Ini yang pertama kalinya aku menangis dihadapanmu, duduk berlutut dihadapanmu separuh menyesal dan kecewa dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Pria yang bersamamu dikamar itu tiba-tiba saja keluar dan berkata “Nanti akan segera ku transfer ke rekeningmu”.
Amarahku tiba-tiba saja memuncak, seperti kerasukan roh jahat dan... satu pukulanku melayang dengan bebas kearah pipi Pria itu. kamu histeris, memintaku untuk berhenti dan tanpa perlawanan Pria itu berjalan begitu saja meninggalkan kita berdua yang sedang duduk putus asa didepan kamar 204 ini.

Kamu, merangkul tanganku tapi sayangnya rasanya tak sehangat dulu dan aku melepaskan tanganmu. Kamu, mencoba ingin memelukku tapi sayangnya rasanya tak senyaman dulu pelukanmu dan aku melepaskannya lagi. aku terus saja menangis, sesekali menahan dadaku yang nyerinya mulai terasa sangat sakit. Sungguh ini sakit sekali. Pelan-pelan aku berjalan selangkah demi selangkah meninggalkanmu yang terus saja menangis dan pada akhirnya aku meninggalkanmu sendiri didepan kamar itu.

Ahh.. ini sakit sekali, bahkan aku sama sekali tak bisa mendengar kamu berkata “maaf”. Ahh.. ini nyeri sekali, bahkan aku tak bisa merasa sangat kasihan dengan air matamu itu. Ini sakitnya bukan karena kebohonganmu sayang, tapi ini sakitnya karena aku yang merasa bersalah karena tak bisa menjagamu dan mengawasimu dengan begitu baiknya.

Aku pergi dulu. Sebentar saja. Aku ingin menghilangkan lelah dan kecewa sebentar saja. Kamu jangan kemana-mana, aku tetap kan mengambilmu lagi dan tak akan mencapakanmu seperti bagaimana Pria-pria berengsek itu melakukannya padamu. Kamu, tenanglah. Aku masih bisa mempercayaimu lagi.